Senin, 02 September 2019

DISWAY


Saya mengikuti Disway.id : catatan nya pak Dahlan iskan. Berbagai isu di tulis di situ. Politik, agama, ekonomi, sosial, motivasi dan apa saja yang tentu sedang viral di bicarakan tiap hari nya. 

Pembaca nya membudak. Terbukti dari komen-komennya yang variatif. Mula-mula memang ‘tak berkelas’, khas komentator asal, yang apa-apa dikaitkan dengan isu politik dalam negeri – nyinyir. Tapi seiring waktu jadi mulai tertib. Komentator nya pun konstruktif dan punya segmen masing-masing. Contoh, pengoreksi bahasa, dia komit memberikan masukan tentang bahasa dan tulisan sesuai EYD. Yang memang terkadang karena kebiasaan, jadi terlupakan. Pun pak dahlan Iskan sebagai biang nya media.

Disway ini jadi rujukan media-media juga akhirnya, terbukti beberapa kali – malah sering dikutip oleh media mainstream di indonesia. Akhirnya beberapa isu pun ada yang sangat hati-hati untuk dilanjutkan. Tentu, ini terkait politik di Indonesia. Bisa dipahami, setelah pak dahlan pernah diperkarakan (dikasus hokum kan walau pun tidak terbukti), traumatik tetap ada. Ide cemerlang, aksi nyata, prestasi kadang habis tergilas saat harus berurusan dengan politik praktis.

Bagi saya baca disway jadi ‘kewajiban’ harian (sebetulnya saya sudah lama menikmati tulisan Pak Dahlan sebelumnya. Tapi tak setiap hari mewajibkan baca).

Topik yang menarik adalah jalan-jalan. Sebagai sobat misquen yang jalan-jalannya kehitung jari dan tak pernah jauh2. Jadi serasa ikut merasakan, apa yang di ceritakan. Jadi tau tentang budaya, Negara dan keberagaman umat manusia. Penting lagi jadi paham tentang arti toleransi. Terutama sekali toleransi dalam beragama. Bukan berarti kita mengabaikan agama dan keyakinan kita. Tapi dengan tahu apa yang ada di luaran, minimal kita jadi bijak bersikap, apalagi pada jaman ini, yang medsos merajalela, yang hoax nya pun menggila.

Bahwa agama itu tak hanya agama samawi -- bahkan agama samawi pun banyak ragamnya. Itu tergambar dari cerita jalan-jalan di berbagai Negara, pada tulisan di disway ini.

Saya juga jadi tahu lebih banyak tentang Amerika dan China, yang kadang punya porsi lebih di ceritakan. Bahkan sampai ke pelosok2 nya, dan kebiasaan sosial nya. Contoh kecil, pernah di sebutkan bagaimana keluarga amerika membesarkan anaknya, kemudian menikmati hidupnya di masa tua. Beda dengan doktrin di china atau Asia pada umumnya, yang lebih mengedepankan kekeluargaan daripada kemandirian.

Saya juga jadi sedikit-sedikit belajar cara nulis. Dengan memperhatikan tulisan-tulisan di Disway ini. Terutama penggunaan kata, tanda baca, ritme dan punchline di setiap tulisannya. Maklum saya sekedar suka menulis, belum pernah ikut pelatihan professional. Jadi banyak nya otodidak, meniru dan menghayati tulisan orang-orang yang menurut hati kecil saya pas dan nyaman dengan apa yang saya harapkan.

Duh..
Baca disway, jadi pengen jadi pa Dahlan rasanya, eh wartawan. (Riki Gana)

Minggu, 25 Agustus 2019

kuli, kuli, kuli


--
Melanjutkan tentang ‘passion-pasion-an’, untuk referensi anak cucu, rasanya saya pun perlu membahas perjalanan menjadi ‘karyawan’ yang saya lakoni.

Saya menjalani 2 kali – eh 3 kali ding, tapi 2 motif terakhir adalah karena kepenasaran aja. Bukan lagi jalan karir.

Pekerjaan pertama, dilingkungan BUMN, tak perlu disebutkan rasanya,toh sekarang sudah menyusut dan mendekati kebangkrutan, seperti kebiasaannya perusahaan milik Negara: di Indonesia. Posisi terakhir di 2018 sebagai Asmen (level superintendent). Pekerjaan ini memang berkarir dan merupakan cita-cita kedua saya setelah ingin jadi dosen. Karena kerja dilingkungan ini harapan perbaikan kehidupan bisa terjamin.

Setelah lulus kuliah di 2009, saat saya sedang ikut pelatihan pengelasan di BLKI, tiba-tiba di panggil ke kampus untuk ikut program pemagangan di perusahaan tersebut. Satu-satu nya dari jurusan yang dapat rekomendasi untuk turut serta dalam program tersebut.

Sejak dulu memang saya terbiasa aktif, baik internal maupun di lingkungan eksternal. Dan alhamdulilah prestasi akademik pun tak mengecewakan. Dulu memang terstigma bahwa aktifis cenderung.  Sekali lagi alhamdulilah, saya berhasil mematahkan stigma itu.

Sebetulnya sebelum wisuda, saya ditawari untuk jadi dosen kontrak, di jurusan tempat saya kuliah. Sempat bimbang, walau itu cita-cita utama, tapi saat itu saya butuh uang yang bukan sekedar alakadarnya. Saya harus potong kompas, untuk memenuhi kebutuhan dasar si maslow (dan melakukan operasi ginekomnastik yang butuh biaya besar).

Belakangan agak saya sesali, kenapa dulu tak bersabar, toh kemudian bisa sampai juga pada pemenuhan kebutuhan, hanya perlu waktu. Ya, tapi begitulah kehidupan, bukankah kita selalu dihadapkan pada pilihan, dengan segala akibat yang harus ditanggungnya.

Kembali ke pekerjaan pertama.

Tak sampai 6 Bulan saya magang. Dibulan kelima promosi menjadi karyawan tetap. Sebagai engineer dengan level formen, setahun kemudian menjadi supervisor, dan selanjutnya menjadi superintendent. Departemen di mulai dan enginering, kemudian masuk operasional, masuk di pemasaran, sebagai wakil management di Sistem manajemen Mutu ISO 9001 juga OHSAS, selanjutnya masuk ke proyek – berkali2 menjadi project manager (yang terlama dan terbesar adalah proyek pembangunan refractory coke oven plant), dan terakhir sebagai koordinator SDM & umum di Departmen HRD dan Keuangan. Hampir seluruh departemen saya masuki – hanya logistic yang belum terjamah.
Seperti cerita pada umumnya, baik di novel maupun di dunia nyata. 

Karir cemerlang, menimbulkan perselisihan. Penolakan lingkungan di tambah hiasan kesenioran, apalagi perlindungan akan pemasukan dan kenyamanan ‘keharaman’. Komplitnya lagi, ketidaktegasan pada top manajemen. Dengan segala seluk beluknya, akhirnya secara tidak langsung ‘di bedol’ dari perusahaan, sehingga akhirnya tiba pada satu keputusan bulat: Mundur. Pemikiran yang sudah lama saya pikirkan saat di gadang-gadang sebagai satu-satunya calon pemimpin tampuk karyawan yang di jagokan.

Walau kemudian  saat ini perusahaan tersebut mengalami kemunduran. Mendekati kebangkrutan. Tapi sebagai melankolis yang sempurna, cara perlakuan lingkungan yang terlalu barbar, agak susah untuk dilupakan. Tentu setelah merasa totalitas waktu 8 tahun menjadi kuli di perusahaan itu tanpa melirik perusahaan lainya.

Hikmahnya? Entahlah !

Tapi ini yang harus di catat, keluarga haruslah menjadi segalanya.

Seperti yang di bilang di atas, untuk pekerjaan ke dua ketiga, yang paling hanya berjalan tiap 3 bulanan (padahal masa kontrak 1 tahun). Itu hanya sekedar penasaran, karena saat ini melanjutkan s2 di bidang pemasaran, maka perlu lah ambil praktek langsung, bagaimana sebetulnya teori itu di aplikasikan.

Demikian,

----
rgs

Kamis, 08 Agustus 2019

Nur Ghana


Ki-ka (Dede, Aa, Kaka)
Waktu cepat berlalu.
Di pagi, 15 Juli 2019, anak yang pertama masuk SD. Kita (saya dan istri) sepakat, memberikan kesempatan untuk mengecap pendidikan yg ‘ter-baik’ bagi anak-anak, pendidikan umum pun agama. Walau merogoh saku agak dalam.

Kami dikarunia 3 orang anak : Satu  perempuan, dua Laki-laki. 

Si sulung Haura Syiffaa Nur Ghana. 
27 Februari 2013
Yang kedua Sakha Pradipta Nur Ghana.
02 Mei 2017
Dan Yang ketiga Rajendra Arya Nur Ghana.
12 Agustus 2018

Semua lahir di Serang -- normal, tak ada yang dilahirkan di daerah tempat kakek neneknya. Kami tak ingin membuat repot keluarga besar. Saya juga tak ingin mengulang cerita lama. Dimana saya selalu di manjakan, sampai lahir pun 'dipaksa' tidak ditempat tinggal orangtua. Ditambah sudah terlanjur, dari awal menikah kami siapkan sendiri, menjalani rumah tangga sendiri. Kami cukupkan doa dan restu orang tua, tanpa minta bekal materi.
Selanjutnya pun kami ingin mengajari anak-anak mandiri. Tentu tak ada maksud untuk menjauhkan kasih sayang kakek-nenek ke cucunya, yang menurut mitosnya lebih sayang di bandingkan keanaknya sendiri.

Nama belakang sengaja kami pilihkan begitu, bukan berarti itu marga, karena dalam tradisi sunda kidul, tak lazim menggunakannya. Itu hanya sebagai penanda, bahwa ada ikatan keluarga yang di turunkan dari orang tua. Nur diambil dari istri, dan Ghana dari saya (kebetulan bapak menamai anak-anaknya yang dari ibu dengan tambahan Gana Suyatna).

Mengenai nama depan anak-anak : Si sulung memang diambil dari bahasa arab -- ikutan tren milenial. Untuk yang kedua dan ketiga saya ambilkan dari kata sanskerta. Sesuai kesukaan saya. Bukan lagi ikut-ikutan tren. Artinya sama, yang terbaik dan berisi doa-doa.
---
Semoga kami bisa menjaga 3 krucil titipan Yang Maha Kuasa ini.

Rabu, 24 Juli 2019

Passion


Saya tidak lahir dari kelurga berkecukupan. Sehingga harus berjuang terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan dasar, minimal sandang pangan papan. Ketika bicara passion. Kadang tak kepikiran, dulu. Setelah kebutuhan dasar tercukupi, di umur sekarang yang menginjak 33 tahun (23 juli kemarin), dank arena kejenuhan aktifitas yang ada. Jadi kepikiran tentang passion. 

Passion adalah perasaan yang sangat kuat seseorang pada sesuatu. Passion seringkali menjadi akar dari berbagai hal sebelum seseorang melakukan sesuatu. begitu kuatnya hingga terkadang orang bersedia melakukan apapun meski dengan pengorbanan yang cukup besar.
 
Begitu bahasa sederhana hasil googling tentang apa itu passion. Mungkin singkat nya bisa dikatakan sebagai gairah.

Lantas tentang ini, saya pun bingung apa yg menjadi passion saya. Hehe…
Karena terkadang saya bertipe ambisius. Yang kemudian setelah tercapai menajdi bosan. Menggebu dan tekun akan sesuatu yang memantang tapi kemudian menjadi bosen dan lelah saat menajdi rutinitas. Dan lainnya, saya kadang tak terpikirkan bagaimana cara menghasilkan uang, selain dari bekerja rutin. Jadi kemudian sekedar menekuni apa yang di tugaskan, tetapi menantang, dan setelah tercapai kemudian tercipta kebosanan.

Passsion tak juga identik dengan hobi, tidak sama. Saya memang hobi menulis, membaca, sejarah dan seni / sastra keindahan tapi bingung saat harus mendapatkan uang dari hobi tadi. Saat saya googling lebih jauh memang tak serta merta hobi menjadi passion, dan memang, jika dikatakan usaha yang menyenangkan adalah dari hobi. Betul memang. Tapi nyatanya tak semudah itu, tanpa ada daya juang dan motivasi tinggi untuk mencapainya.

Saya memutuskan berhenti jadi karyawan 2 kali. Saat yang pertama di picu karena kondisi yang sudah tidak kondusif dan membosankan, yang kedua lebih kepada tak ada tantangan dan monoton. Setelah itu saya masih berencana melakukan pencarian menjadi karyawan kembali. Akibat ketidaktahanan menghadapi kebosanan di weekday. Tapi kemudian istri yang menyadarkan, di umur segini, sebaiknya reset ulang tujuan hidup. Di saat untuk kebutuhan dasar dan pendidikan dari keluarga sudah tercukupi. Apakah harus kembali menjadi kuli?.memang betul, tapi merubah mindset memang tak semudah itu. Masih selalu dihantui kekhawatiran, bagaimana cara menghasilkan uang saat tak menjadi kuli.

Dilain sisi, Kecenderungan sensi, dan selalu melihat kedalam. Ini dampak lain psikologis masa lalu saya, mungkin. Saya termasuk orang rumahan, senang kebersihan dan kerapian rumah. Dilain sisi saya begitu menyenangi kepemimpinan, ini pun dampak dari keluarga, terutama bapak yang mengajarkan kepemimpinan dan ibu mengajarkan dengan tindakan tentang keaktifan. Saya pernah mengikuti test sederhana mengenai kepribadian, tak heran jika hasilnya menunjukkan sebagai melankolis yang sempurna dan koleris yang kuat.

Dan entahlah..
Dari sekian yang telah terceritakan, saya belum tercerahkan mengenai ke –passion –an. Terutama pada bagian bagaimana menghasilkan rupiah dengan passion. Bukan karena tuntutan atau ikut-ikutan jaman yang sekarang sedang rame-rame nya ber passion ria.

--
Serang, 25 juli 2019

Sabtu, 15 Juni 2019

Keluarga Cau Muli (2)


Saya tiga bersaudara. Eh, empat sebetulnya. Karena bapak pernah menikah dan dikarunai anak perempuan : kakak saya tertua. Ibu saya (mamah saya memanggilnya) adalah istri yang ketiga kali nya. Bapak sudah menikah 2 kali sebelum dengan ibu saya. Dengan istri yang kedua, bapak tak dikaruniai putra/i. Karena pernikahannya terbilang singkat --- Begitu cerita Bapak, di suatu waktu di saung balong, sambil menunggu hujan reda.

Bapak dan ibu saya terpaut perbedaan usia 10 tahun. Baru-baru ini saya tau, Bapak lahir di 1956. Lulus SMEA ibu di pinang bapak yang seorang kepala desa, kala itu. Di janjikan akan di kuliahkan, setelah menikah : janji yang kemudian tidak pernah tertepati karena banyak karenanya.

Ini jadi semua tentang bapak. Tapi kali ini saya ingin cerita tentang saudara-saudara. Yang berempat itu.

Agak sulit mendeskripsikan kakak saya yang pertama dari ibu yang berbeda. Disamping dari kecil tidak serumah. Sangat jarang – sebelum dewasa dan menikah – berkunjung ke rumah. Yang jelas pada umumnya, anak dengan kondisi ketidak ajegan keluarga, bisa dipastikan terlunta-lunta kehidupannya. Apalagi kemudian ibunya menikah lagi. Akhirnya kesini tiri, kesitu tiri. Jika dia ceritakan, lebih sangat menarik dari cerita kesusahan saya. Dia hanya lulusan SD (kala itu, kata bapak mau disekolahkan, di tolak sama neneknya), kemudian masuk pesantren, tak lama menikah di usia muda. Lainnya bisa ketebak. Cekcok dan cerai. Fenomena ini masih banyak terjadi di kampung saya. Cepet nikah. Cepet pula cerainya.  Alhamdulilahnya, sekarang dia sudah ajeg berkeluarga dipernikahannya yang kedua. Dengan rekan kerja nya, saat merasai menjadi TKI di Arab Saudi. Dikarunia seorang putri : kelas 2 SD saat ini.

Adik saya yang pertama perempuan, lahir 1994. Lulusan UIN Banten jurusan komunikasi. Sekarang sudah bekerja dan berkeluarga. Dikaruniai seorang putra, baru 4 tahun usianya. Saya merasa dia dewasa sebelum waktunya. Dipaksa untuk memahami kondisi likuiditas keluarga. Dan berpikir bagaimana caranya menyelesaikan studinya, tanpa membebankan orang tua. Dia memutuskan menikah sebelum wisuda. Tapi kemudian cum laude saat wisuda dan sukses. Pada momen ini saya sangat menyesal, tak bisa menghadiri acaranya. Agak aneh memang. Tak ada alasan. Selain karena keruwetan lingkungan pekerjaan -- yang alhamdulilah saat ini sudah saya akhiri, dan mencoba berganti.
Kadang saya tak percaya dia bisa begitu. Mungkin mencontoh. Mungkin pula terjepit kondisi. Dulu, dulu sekali, saat masih kecil, saat masih saya gendong keliling kampung untuk main, nakal nya bukan main. kalo tidak di turuti keinginnya, bisa nangis jerit guling-guling. Yang masih melekat di ingatan, suatu saat, tak bisa dilarang, nginjek lantai keramik milik tetangga, kemudian di usir dengan congkaknya, Kenangan yang agak menyakitkan emang. Saat itu, lantai rumah kami separo tanah dan separo acian tembok.  Dan rumah pun retak-retak akibat gempa yang sering.
Intensitas saya dengan adik yang ini, lumayan tinggi. Setidaknya rentang waktu bayi sampai dia lulus SD. Sebelum kemudian saya kuliah, tak di rumah. dia di kirim ke pesantren modern. Di rangkas bitung. Sampai SMA. Dan kuliah. Di serang : memilih untuk kost, tak ingin merepotkan katanya.
Adik saya yang kedua – bungsu, laki-laki. Saat ini mau masuk SMA. Dia lahir di 2004, saat saya lulus SMA, mau melanjutkan kuliah. Ketemunya menjadi spot – spot. Tak terasa rasanya, bayinya berasa baru kemarin. Sekarang sudah lulus SMP. Bagi si bungsu mungkin tak begitu terasa prihatin nya kehidupan keluarga, setidaknya setelah dia mengerti kehidupan. Walaupun kita, khususnya saya, selalu menerapkan pola prihatin untuk kehidupannya. Yang kemudian saya sadar, bahwa kondisi saat ini berbeda. Tak bisa dipaksakan. Tapi jadi ada efek lain, prestasi di sekolah tak semoncer kakak-kakanya. Bisa dipahami. Pertama karena kurang daya juang. Kedua takkada lagi supervisi dari yang lain. Karena otomatis dia selalu sendirian di rumah. Tapi saya tak ambil pusing. Biarkan dia begitu adanya, menikmati kondisi. Sampai suatu saat mulai dewasa dan tersadarkan. Toh basicnya tetep baik, tak pernah bergaul macam-macam. Saya pun tak ingin mengarahkan begitu dalam. Tapi berharap suatu saat, betul-betul sukses seperti yang dia inginkan.

Adik bungsu ini yang sukses dilahirkan, di rumah yang sekarang di tempati. Tidak pindah-pindah. Seinget saya, kurang lebih 5 kali keluarga kami berganti domisili. Mulai punya rumah gedong di kampung kakek dari bapak. Kemudian pindah ke pinggir jalan utama. Lalu ikut di rumah kakek dari Ibu (pulang dari rutan). Selanjutnya tinggal di Saung kebon -- sendirian. Lalu pindah ke pinggir jalan utama, kampung besar (karena mengandung bayi adik perempuan). Dan terakhir bikin rumah di yang sekarang di tinggali.

Hal ini jadi alasan, mengapa sekarang saya, istri dan anak-anak tetap tinggal di rumah bersubsidi (yang saya beli seminggu sebelum menikah). Bukan karena subsidinya. Dan bukan karena tak sanggup di rumah cluster. Ada traumatic tersendiri, ketika pindah-pindah. Selalu semua dari nol ; lingkungan, dan tetek bengeknya. Sekarang saya memilih nambah satu rumah untuk perluasan, lainnya untuk kantor istri (Notaris dan PPAT) dari pada harus pergi dan berganti-ganti domisili. Entah sampai kapan.
….
cerita flash back ini jadi begitu mengharukan : bagi saya yang sudah lama selalu mengedepankan logika daripada intuisi.
…..
Kenapa Cau muli?

Karena satu-satu penceharian yang nampak adalah kebun pisang muli di belakang rumah. Begitu terkenang, saat anak-anak sekolah,bekelnya nya pun selalu pisang muli. Dikardusin. Di ikat karet ban warna item dan tenteng di mobil elf.
Walau kemudian kebun ini di oper alihkan pemilik, karena di ributkan oleh keluarga dari pihak bapak. Sebetulnya ini bukan satu-satunya yang di permasalahkan. Karena selalu, selalu dan selalu ada semacam kecemburuan. Mengenai keruwetan ini, saya agak enggan menulisnya. Unfaedah rasanya.  Seinget saya, tak pernah ada kebaikan di keluarga kami di mata sodara-sodara. Terutama bapak. Steriotipe ‘tukang menghabiskan pakaya’ sudah melekat. Walau bagaimanapun usaha yang sudah dilakukan. Tak lantas menghilangkan semua dendam dan cercaan. Sampai detik catatan di buat pun. Tak habis rasanya perseteruan yang ada. Tentang ‘pakaya’ dan semua kenorakan nya.
Nauzdubilah…

--
Serang, 15.06.2019