Saya senang aktif. Sampai saat ini tercatat mempunyai beberapa profesi: Wirausaha (founder Harum Kula Gana), Dosen Tetap, Advokat dan Konsultan Hukum Bisnis (GANA & GHANA Law Firm), Aktif dalam pembicara-pembicara dalam berbagai event, aktif dikemasyarakatan (mesjid,dll), Aktif dalam beberapa Organisasi (GOLKAR, KADIN, LEMHANNAS, PII, PADIRAYA, ALUMET, dll).
Sekali lagi saya senang aktif, dan berdaya guna.
Istripun demikian (entah mungkin karena kebawa saya atau memang ya senang menajalni sesuatu saja, agar tidak stuck) : Notaris & PPAT, Dosen Tetap di kampus yang sama (UPG), Tutor Tetap di Universitas Terbuka, Pegang usaha ANUKULA Cafe & Resto, dll.
Bedanya, karena istri ada anak-anak, dan kelihatannya lebih senang memasak dan kumpul berkreasi dengan karyawan, istri saya tidak begitu aktif berorganisasi, alakadarnya saja. Tapi dikenal oleh orang lain di organisasi maupun di masyarakat.
Otomatis kesibukan kami ini, sangat sedikit waktu untuk anak-anak.
Eits... nyatanya, kami siasati.
Diawal kami akan aktif, kami sudah diskusi cukup panjang, kesimpulannya: dengan segala konsekuensi yang ada, agar kita tidak jauh dari anak-anak, maka aktifitas utama kita, kita usahakan berada di rumah -- kantor sebelahan dengan rumah, begitupun cafe, ngajar nyari kampus yang bisa online (sesekali offline), juga organisasi yang tidak mengharuskan banyak ketemu offline dan padet kegiatan.
Alhamdulilah itu terlewati.
Idenya adalah: walau kami sibuk, tapi kami tiap harinya selalu ada interaksi dengan anak-anak. Walau konsekuensinya adalah kami bawa klien ke kekantor yang dekat dengan rumah. Positifnya anak-anak jadi tau aktifitas orang tuanya.
Mimpinya adalah memperbaiki kantor agar lebih terpisah dengan rumah dan agar lebih profesional, gagah, dan tidak terlalu mengganggu aktifitas rumah dan keluarga.
Tentu saja menyesuaikan dengan keuangan. Kami bukan orang yang Have. Sekadar memenuhi apa yang memang harus dipenuhi --untuk saat ini.
Mungkin kelas menengah, yang kadang kurang perhatian dari pemerintah. hehe..
Kembali ke anak:
Alhamdulilah, saya jadi tau tumbuh kembangnya anak-anak.
Dengan segala tetek-bengek dramanya.
Mengurus anak itu pelajaran yang tidak ada habisnya.
Menarik unik, Kadang memang sulit.
Tiga anak yang berbeda karakter. Tiga anak yang beda rentang usia 2 -3 tahun. Dua Anak laki-laki dan satu anak perempuan.
Kadang saya menjadi terheran-terheran ternyata banyak potensi dari mereka. Misal: sikaka ternyata jago gambar, padahal saya tidak, mungkin menurun dari trah keluarga besar. Si Aa yang rapih, kritis dan pintar sistematis tolong menolong. Si dede yang jago bicara detail, komunikasinya begitu bagus.
Lagi-lagi saya bersyukur kepada Alloh SWT, telah diberikan segala nikmat ini, termasuk nikmat mengasuh anak-anak.
Kenangan ini tentu akan abadi.
Suatu saat, jika blog ini masih ada, dan semoga terbaca oleh anak-anak yang sudah besar, saya hanya ingin mengatakan dari hati yang paling dalam:
SAYA SEBAGAI AYAH, SANGAT BANGGA MEMPUNYAI TIGA ANAK KESAYANGAN INI.
Demikian,
- Riki Gana S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar