Senin, 28 Oktober 2019

Absen Oktober

Di Waduk Jati Luhur, purwakarta

Sudah oktober akhir...

Menulis d blog ini selalu terlewat, karena banyak aktifitas -- tidak serta merta itu alasannya, toh buktinya fb selalu update. Hal ini sebetulnya yg membuat blog semakin tidak eksis, pesaing yang lebih mudah dan real time semakin banyak di gandrungi.

Entah sampai kapan blogspot ini bertahan. Yang jelas, saya tetap setia. Karena satu-satunya yang sekarang tidak banyak diligat orang adalah blogspot ini. Setidaknya masih bisa leluasa untuk bicara blak-blakan. Dibandingkan dengan medsos lainnya yang seakan-akan tak ada privasi lagi.

Saat menulis ini, saya berada di Bandung. Bersama istri, tanpa anak-anak.

Istri sedang kegiatan profesinya (uken, notaris).

Bulan oktober ini betul-betul padat. Dari aktifitas saya pribadi, kemudian istri dan banyak lain2 lagi.

Bulak balik Jakarta - Banten. Kemudian Bandung - Banten, itu semua padet di oktober ini.
Hotel Grand Prama prienger yang bersejarah, tempat kegiatan kenotariatan istri, Bandung
Bersama istri, Di didusun Bambu, Bandung -- waktu senggang setelah acara

Acaranya memang untuk profesi. Saya di keinsinyuran, istri di kenotatiatan dan ppat.

Ada kegiatan selingan, ikut penyusunan bahasa sunda dialek Banten, oleh kantor Bahasa Banten di Lebak.

Saya baru ngeh, tadi iseng scrol2. Ternyata semenjak mahasiswa dulu, awal2 sudah menulis tentang ke bahasa sundaan, Banten.

Jadi, ternyata ketertarikan saya --kalo boleh dijabarkan kembali-- adalah pada Sejarah, Bahasa, Sastra, Seni dan Sosial. Lainnya organisasi, tapi entah kenapa kalo ke urusan politik saya enggan mengakui, tertarik tapi kadang kurang sreg.

Kesibukan rutin lain selain kuliah S2 (saat ini semester 3) adalah kursus bahasa inggris di LIA serang -- sekali lagi, rupanya saya mempunyai ketertarikan lebih pada bahasa.

Mengenai usaha, belum maksimal kepegang, karena masih aktifitas luar. Tapi PT. Anu kula Gana, bookstore nukula, FP Sajarah Banten tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Rencananya, kita selesaikan dulu urusan satu -- kenotariatan istri. Selanjutnya maksimal di perusahaan pribadi.
Terus terang saya akui, sebagai pemula, saya tidak ahli dalam multitasking.

Demikian,

Saya harus memenuhi janji, min sebulan sekali  menulis d blog ini. Ini janji laki-laki yang harus di tepati. Walau hanya sekedar nulis, ungkapan hati.
(Riki. Gana)

Senin, 30 September 2019

METAL ATAU MENTAL??

Pengkaderan mahasiswa
Teknik Metalurgi UNTIRTA 2019
--
Dalam hal bukan prinsip, sudah lama saya tidak berpikiran ekstrim ; kanan maupun kiri. Lebih ke tengah. Karena toh kanan ataupun kiri, selalu banyak referensi ProKon -- tinggal gugling.

Pun dalam pengkaderan mahasiswa -- Metalurgi Camp khususnya.

Saya produk camp dengan cara 'keras'. Yang kemudian diterjemahkan bebas dalam kata 'perloncoan'. Tak perlu di kupas teknisnya -- bisa2 saya di somasi senior2 yang notabene nya sudah jadi bos-bos dengan tangan yang banyak. 😁🤭

Saya tidak tau persis, apa relevansi antara cara keras saat pengkaderan, dengan kehidupan nyata. Terutama pada pekerjaan. Saya juga males cari referensinya.

Hanya, berdasarkan salah satu pengalaman. Doktrinasi sebagai 'anak metal' begitu mengena. Saya pernah pegang proyek, hampir 2 tahun, dengan pekerja berbagai kultur (450 - 500 org, termasuk puluhan warga terampil RRT), dan cukup sukses. Tau kenapa?

Karena berpikir " ANAK METAL, TAK BOLEH MENTAL ".

Tentu sekarang beda zaman, beda generasi dan beda lingkungan. Tak elok memaksakan metode lama dengan 'kekerasan'. Menggunakan cara baru dengan 'kelembutan', menjadi salah satu pilihan.

Mana metode yang terbaik?
Saya tidak tahu.

Apakah outputnya berbeda?
Saya tidak tahu.

Yang saya tau hanya Salam Metal -- karena saya yg mengukuhkan nya -- dengan jawaban : Never die metallurgy !!

(rgs)
Metal Camp 2019

Senin, 23 September 2019

Sana Sini

wah, September hampir habis.

Saking sibuknya dengan kegiatan -- banyaknya online sana sini, training sana sini, pertemuan sana sini, dan kuliah sana sini : apdet penulisan di blog ini pun jadi sana sini. Terlantar.

Butuh waktu untuk menstrukturisasi tujuan, terutama penciptaan peluang-peluang usaha. Bagi sebagian orang yang sudah di titik nyaman -- seperti saya, berubah untuk berwirausaha itu agak-agak sulit. Ini bukan berati terlambat. Hanya perlu penyesuaian yang memang agak lambat.

Tapi bukankah lambat yang penting selamat?

Selamat berseptember ceria. (Riki Gana)

Selasa, 03 September 2019

DISWAY


Saya mengikuti Disway.id : catatan nya pak Dahlan iskan. Berbagai isu di tulis di situ. Politik, agama, ekonomi, sosial, motivasi dan apa saja yang tentu sedang viral di bicarakan tiap hari nya. 

Pembaca nya membudak. Terbukti dari komen-komennya yang variatif. Mula-mula memang ‘tak berkelas’, khas komentator asal, yang apa-apa dikaitkan dengan isu politik dalam negeri – nyinyir. Tapi seiring waktu jadi mulai tertib. Komentator nya pun konstruktif dan punya segmen masing-masing. Contoh, pengoreksi bahasa, dia komit memberikan masukan tentang bahasa dan tulisan sesuai EYD. Yang memang terkadang karena kebiasaan, jadi terlupakan. Pun pak dahlan Iskan sebagai biang nya media.

Disway ini jadi rujukan media-media juga akhirnya, terbukti beberapa kali – malah sering dikutip oleh media mainstream di indonesia. Akhirnya beberapa isu pun ada yang sangat hati-hati untuk dilanjutkan. Tentu, ini terkait politik di Indonesia. Bisa dipahami, setelah pak dahlan pernah diperkarakan (dikasus hokum kan walau pun tidak terbukti), traumatik tetap ada. Ide cemerlang, aksi nyata, prestasi kadang habis tergilas saat harus berurusan dengan politik praktis.

Bagi saya baca disway jadi ‘kewajiban’ harian (sebetulnya saya sudah lama menikmati tulisan Pak Dahlan sebelumnya. Tapi tak setiap hari mewajibkan baca).

Topik yang menarik adalah jalan-jalan. Sebagai sobat misquen yang jalan-jalannya kehitung jari dan tak pernah jauh2. Jadi serasa ikut merasakan, apa yang di ceritakan. Jadi tau tentang budaya, Negara dan keberagaman umat manusia. Penting lagi jadi paham tentang arti toleransi. Terutama sekali toleransi dalam beragama. Bukan berarti kita mengabaikan agama dan keyakinan kita. Tapi dengan tahu apa yang ada di luaran, minimal kita jadi bijak bersikap, apalagi pada jaman ini, yang medsos merajalela, yang hoax nya pun menggila.

Bahwa agama itu tak hanya agama samawi -- bahkan agama samawi pun banyak ragamnya. Itu tergambar dari cerita jalan-jalan di berbagai Negara, pada tulisan di disway ini.

Saya juga jadi tahu lebih banyak tentang Amerika dan China, yang kadang punya porsi lebih di ceritakan. Bahkan sampai ke pelosok2 nya, dan kebiasaan sosial nya. Contoh kecil, pernah di sebutkan bagaimana keluarga amerika membesarkan anaknya, kemudian menikmati hidupnya di masa tua. Beda dengan doktrin di china atau Asia pada umumnya, yang lebih mengedepankan kekeluargaan daripada kemandirian.

Saya juga jadi sedikit-sedikit belajar cara nulis. Dengan memperhatikan tulisan-tulisan di Disway ini. Terutama penggunaan kata, tanda baca, ritme dan punchline di setiap tulisannya. Maklum saya sekedar suka menulis, belum pernah ikut pelatihan professional. Jadi banyak nya otodidak, meniru dan menghayati tulisan orang-orang yang menurut hati kecil saya pas dan nyaman dengan apa yang saya harapkan.

Duh..
Baca disway, jadi pengen jadi pa Dahlan rasanya, eh wartawan. (Riki Gana)

Minggu, 25 Agustus 2019

kuli, kuli, kuli


--
Melanjutkan tentang ‘passion-pasion-an’, untuk referensi anak cucu, rasanya saya pun perlu membahas perjalanan menjadi ‘karyawan’ yang saya lakoni.

Saya menjalani 2 kali – eh 3 kali ding, tapi 2 motif terakhir adalah karena kepenasaran aja. Bukan lagi jalan karir.

Pekerjaan pertama, dilingkungan BUMN, tak perlu disebutkan rasanya,toh sekarang sudah menyusut dan mendekati kebangkrutan, seperti kebiasaannya perusahaan milik Negara: di Indonesia. Posisi terakhir di 2018 sebagai Asmen (level superintendent). Pekerjaan ini memang berkarir dan merupakan cita-cita kedua saya setelah ingin jadi dosen. Karena kerja dilingkungan ini harapan perbaikan kehidupan bisa terjamin.

Setelah lulus kuliah di 2009, saat saya sedang ikut pelatihan pengelasan di BLKI, tiba-tiba di panggil ke kampus untuk ikut program pemagangan di perusahaan tersebut. Satu-satu nya dari jurusan yang dapat rekomendasi untuk turut serta dalam program tersebut.

Sejak dulu memang saya terbiasa aktif, baik internal maupun di lingkungan eksternal. Dan alhamdulilah prestasi akademik pun tak mengecewakan. Dulu memang terstigma bahwa aktifis cenderung.  Sekali lagi alhamdulilah, saya berhasil mematahkan stigma itu.

Sebetulnya sebelum wisuda, saya ditawari untuk jadi dosen kontrak, di jurusan tempat saya kuliah. Sempat bimbang, walau itu cita-cita utama, tapi saat itu saya butuh uang yang bukan sekedar alakadarnya. Saya harus potong kompas, untuk memenuhi kebutuhan dasar si maslow (dan melakukan operasi ginekomnastik yang butuh biaya besar).

Belakangan agak saya sesali, kenapa dulu tak bersabar, toh kemudian bisa sampai juga pada pemenuhan kebutuhan, hanya perlu waktu. Ya, tapi begitulah kehidupan, bukankah kita selalu dihadapkan pada pilihan, dengan segala akibat yang harus ditanggungnya.

Kembali ke pekerjaan pertama.

Tak sampai 6 Bulan saya magang. Dibulan kelima promosi menjadi karyawan tetap. Sebagai engineer dengan level formen, setahun kemudian menjadi supervisor, dan selanjutnya menjadi superintendent. Departemen di mulai dan enginering, kemudian masuk operasional, masuk di pemasaran, sebagai wakil management di Sistem manajemen Mutu ISO 9001 juga OHSAS, selanjutnya masuk ke proyek – berkali2 menjadi project manager (yang terlama dan terbesar adalah proyek pembangunan refractory coke oven plant), dan terakhir sebagai koordinator SDM & umum di Departmen HRD dan Keuangan. Hampir seluruh departemen saya masuki – hanya logistic yang belum terjamah.
Seperti cerita pada umumnya, baik di novel maupun di dunia nyata. 

Karir cemerlang, menimbulkan perselisihan. Penolakan lingkungan di tambah hiasan kesenioran, apalagi perlindungan akan pemasukan dan kenyamanan ‘keharaman’. Komplitnya lagi, ketidaktegasan pada top manajemen. Dengan segala seluk beluknya, akhirnya secara tidak langsung ‘di bedol’ dari perusahaan, sehingga akhirnya tiba pada satu keputusan bulat: Mundur. Pemikiran yang sudah lama saya pikirkan saat di gadang-gadang sebagai satu-satunya calon pemimpin tampuk karyawan yang di jagokan.

Walau kemudian  saat ini perusahaan tersebut mengalami kemunduran. Mendekati kebangkrutan. Tapi sebagai melankolis yang sempurna, cara perlakuan lingkungan yang terlalu barbar, agak susah untuk dilupakan. Tentu setelah merasa totalitas waktu 8 tahun menjadi kuli di perusahaan itu tanpa melirik perusahaan lainya.

Hikmahnya? Entahlah !

Tapi ini yang harus di catat, keluarga haruslah menjadi segalanya.

Seperti yang di bilang di atas, untuk pekerjaan ke dua ketiga, yang paling hanya berjalan tiap 3 bulanan (padahal masa kontrak 1 tahun). Itu hanya sekedar penasaran, karena saat ini melanjutkan s2 di bidang pemasaran, maka perlu lah ambil praktek langsung, bagaimana sebetulnya teori itu di aplikasikan.

Demikian,

----
rgs

Kamis, 08 Agustus 2019

Nur Ghana


Ki-ka (Dede, Aa, Kaka)
Waktu cepat berlalu.
Di pagi, 15 Juli 2019, anak yang pertama masuk SD. Kita (saya dan istri) sepakat, memberikan kesempatan untuk mengecap pendidikan yg ‘ter-baik’ bagi anak-anak, pendidikan umum pun agama. Walau merogoh saku agak dalam.

Kami dikarunia 3 orang anak : Satu  perempuan, dua Laki-laki. 

Si sulung Haura Syiffaa Nur Ghana. 
27 Februari 2013
Yang kedua Sakha Pradipta Nur Ghana.
02 Mei 2016
Dan Yang ketiga Rajendra Arya Nur Ghana.
12 Agustus 2018

Semua lahir di Serang -- normal, tak ada yang dilahirkan di daerah tempat kakek neneknya. Kami tak ingin membuat repot keluarga besar. Saya juga tak ingin mengulang cerita lama. Dimana saya selalu di manjakan, sampai lahir pun 'dipaksa' tidak ditempat tinggal orangtua. Ditambah sudah terlanjur, dari awal menikah kami siapkan sendiri, menjalani rumah tangga sendiri. Kami cukupkan doa dan restu orang tua, tanpa minta bekal materi.
Selanjutnya pun kami ingin mengajari anak-anak mandiri. Tentu tak ada maksud untuk menjauhkan kasih sayang kakek-nenek ke cucunya, yang menurut mitosnya lebih sayang di bandingkan keanaknya sendiri.

Nama belakang sengaja kami pilihkan begitu, bukan berarti itu marga, karena dalam tradisi sunda kidul, tak lazim menggunakannya. Itu hanya sebagai penanda, bahwa ada ikatan keluarga yang di turunkan dari orang tua. Nur diambil dari istri, dan Ghana dari saya (kebetulan bapak menamai anak-anaknya yang dari ibu dengan tambahan Gana Suyatna).

Mengenai nama depan anak-anak : Si sulung memang diambil dari bahasa arab -- ikutan tren milenial. Untuk yang kedua dan ketiga saya ambilkan dari kata sanskerta. Sesuai kesukaan saya. Bukan lagi ikut-ikutan tren. Artinya sama, yang terbaik dan berisi doa-doa.
---
Semoga kami bisa menjaga 3 krucil titipan Yang Maha Kuasa ini.

Kamis, 25 Juli 2019

Passion


Saya tidak lahir dari kelurga berkecukupan. Sehingga harus berjuang terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan dasar, minimal sandang pangan papan. Ketika bicara passion. Kadang tak kepikiran, dulu. Setelah kebutuhan dasar tercukupi, di umur sekarang yang menginjak 33 tahun (23 juli kemarin), dank arena kejenuhan aktifitas yang ada. Jadi kepikiran tentang passion. 

Passion adalah perasaan yang sangat kuat seseorang pada sesuatu. Passion seringkali menjadi akar dari berbagai hal sebelum seseorang melakukan sesuatu. begitu kuatnya hingga terkadang orang bersedia melakukan apapun meski dengan pengorbanan yang cukup besar.
 
Begitu bahasa sederhana hasil googling tentang apa itu passion. Mungkin singkat nya bisa dikatakan sebagai gairah.

Lantas tentang ini, saya pun bingung apa yg menjadi passion saya. Hehe…
Karena terkadang saya bertipe ambisius. Yang kemudian setelah tercapai menajdi bosan. Menggebu dan tekun akan sesuatu yang memantang tapi kemudian menjadi bosen dan lelah saat menajdi rutinitas. Dan lainnya, saya kadang tak terpikirkan bagaimana cara menghasilkan uang, selain dari bekerja rutin. Jadi kemudian sekedar menekuni apa yang di tugaskan, tetapi menantang, dan setelah tercapai kemudian tercipta kebosanan.

Passsion tak juga identik dengan hobi, tidak sama. Saya memang hobi menulis, membaca, sejarah dan seni / sastra keindahan tapi bingung saat harus mendapatkan uang dari hobi tadi. Saat saya googling lebih jauh memang tak serta merta hobi menjadi passion, dan memang, jika dikatakan usaha yang menyenangkan adalah dari hobi. Betul memang. Tapi nyatanya tak semudah itu, tanpa ada daya juang dan motivasi tinggi untuk mencapainya.

Saya memutuskan berhenti jadi karyawan 2 kali. Saat yang pertama di picu karena kondisi yang sudah tidak kondusif dan membosankan, yang kedua lebih kepada tak ada tantangan dan monoton. Setelah itu saya masih berencana melakukan pencarian menjadi karyawan kembali. Akibat ketidaktahanan menghadapi kebosanan di weekday. Tapi kemudian istri yang menyadarkan, di umur segini, sebaiknya reset ulang tujuan hidup. Di saat untuk kebutuhan dasar dan pendidikan dari keluarga sudah tercukupi. Apakah harus kembali menjadi kuli?.memang betul, tapi merubah mindset memang tak semudah itu. Masih selalu dihantui kekhawatiran, bagaimana cara menghasilkan uang saat tak menjadi kuli.

Dilain sisi, Kecenderungan sensi, dan selalu melihat kedalam. Ini dampak lain psikologis masa lalu saya, mungkin. Saya termasuk orang rumahan, senang kebersihan dan kerapian rumah. Dilain sisi saya begitu menyenangi kepemimpinan, ini pun dampak dari keluarga, terutama bapak yang mengajarkan kepemimpinan dan ibu mengajarkan dengan tindakan tentang keaktifan. Saya pernah mengikuti test sederhana mengenai kepribadian, tak heran jika hasilnya menunjukkan sebagai melankolis yang sempurna dan koleris yang kuat.

Dan entahlah..
Dari sekian yang telah terceritakan, saya belum tercerahkan mengenai ke –passion –an. Terutama pada bagian bagaimana menghasilkan rupiah dengan passion. Bukan karena tuntutan atau ikut-ikutan jaman yang sekarang sedang rame-rame nya ber passion ria.

--
Serang, 25 juli 2019