Sabtu, 24 Oktober 2026

ANAK-ANAK GHANA

Saya senang aktif. Sampai saat ini tercatat mempunyai beberapa profesi: Wirausaha (founder Harum Kula Gana), Dosen Tetap, Advokat dan Konsultan Hukum Bisnis (GANA & GHANA Law Firm), Aktif dalam pembicara-pembicara dalam berbagai event, aktif dikemasyarakatan (mesjid,dll), Aktif dalam beberapa Organisasi (GOLKAR, KADIN, LEMHANNAS, PII, PADIRAYA, ALUMET, dll).

Sekali lagi saya senang aktif, dan berdaya guna.

Istripun demikian (entah mungkin karena kebawa saya atau memang ya senang menajalni sesuatu saja, agar tidak stuck) : Notaris & PPAT, Dosen Tetap di kampus yang sama (UPG), Tutor Tetap di Universitas Terbuka, Pegang usaha ANUKULA Cafe & Resto, dll.

Bedanya, karena istri ada anak-anak, dan kelihatannya lebih senang memasak dan kumpul berkreasi dengan karyawan, istri saya tidak begitu aktif berorganisasi, alakadarnya saja. Tapi dikenal oleh orang lain di organisasi maupun di masyarakat.

Otomatis kesibukan kami ini, sangat sedikit waktu untuk anak-anak.

Eits... nyatanya, kami siasati. 

Diawal kami akan aktif, kami sudah diskusi cukup panjang, kesimpulannya: dengan segala konsekuensi yang ada, agar kita tidak jauh dari anak-anak, maka aktifitas utama kita, kita usahakan berada di rumah -- kantor sebelahan dengan rumah, begitupun cafe, ngajar nyari kampus yang bisa online (sesekali offline), juga organisasi yang tidak mengharuskan banyak ketemu offline dan padet kegiatan.

Alhamdulilah itu terlewati.

Idenya adalah: walau kami sibuk, tapi kami tiap harinya selalu ada interaksi dengan anak-anak. Walau konsekuensinya adalah kami bawa klien ke kekantor yang dekat dengan rumah. Positifnya anak-anak jadi tau aktifitas orang tuanya.

Mimpinya adalah memperbaiki kantor agar lebih terpisah dengan rumah dan agar lebih profesional, gagah, dan tidak terlalu mengganggu aktifitas rumah dan keluarga.

Tentu saja menyesuaikan dengan keuangan. Kami bukan orang yang Have. Sekadar memenuhi apa yang memang harus dipenuhi --untuk saat ini.

Mungkin kelas menengah, yang kadang kurang perhatian dari pemerintah. hehe..

Kembali ke anak:

Alhamdulilah, saya jadi tau tumbuh kembangnya anak-anak.

Dengan segala tetek-bengek dramanya. 

Mengurus anak itu pelajaran yang tidak ada habisnya.

Menarik unik, Kadang memang sulit.

Tiga anak yang berbeda karakter. Tiga anak yang beda rentang usia 2 -3 tahun. Dua Anak laki-laki dan satu anak perempuan.

Kadang saya menjadi terheran-terheran ternyata banyak potensi dari mereka. Misal: sikaka ternyata jago gambar, padahal saya tidak, mungkin menurun dari trah keluarga besar. Si Aa yang rapih, kritis dan pintar sistematis tolong menolong. Si dede yang jago bicara detail, komunikasinya begitu bagus.

Lagi-lagi saya bersyukur kepada Alloh SWT, telah diberikan segala nikmat ini, termasuk nikmat mengasuh anak-anak.

Kenangan ini tentu akan abadi.

Suatu saat, jika blog ini masih ada, dan semoga terbaca oleh anak-anak yang sudah besar, saya hanya ingin mengatakan dari hati yang paling dalam:

SAYA SEBAGAI AYAH, SANGAT BANGGA MEMPUNYAI TIGA ANAK KESAYANGAN INI.

Demikian,

- Riki Gana S


Jumat, 23 Oktober 2026

2026 Keramat

 Ini Oktober 2026.

Saya kira blog ini sudah hilang dan tidak bisa diakses.

ternyata masih bisa. 

Makanya saya update hari ini -- untuk meninggalkan jejak.

Jejak kehidupan, bagaimana perjalanan dari hari-ke hari waktu ke waktu.

2025 kemarin kantor kami (saya dan istri) kena dojaan --utamanya penghianatan teman. Sehingga riweuh berurusan dengan APH, dll.

Ini jadi pelajaran yang SANGAT-SANGAT berharga. Tapi begitulah. Risiko profesi.

Alhamdulilahnya kami betul tidak punya niat jahat dan tentu Alloh Maha Tau. 

Ini hanya cara Alloh untuk menguji ketangguhan kami.

Kami dijadikan cara atau lebih tepat dikorbankan oleh orang yang sedang berperkara. Yang pengurusannya melalui kantor kami.

Walau sampai saat ini belum selesai 100%, tetapi rasanya dari sisi profesional kami, ini sudah ada titik terang dan penyelesainnya. Mungkin tersisa beberapa administratif yang harus diselesaikan.

Hikmahnya, kami jadi tau apa yang sesungguhnya terjadi dan risiko apa yang berakibat di dunia kami.

Hikmah selanjutnya, seperti Alloh memberikan pelajaran berharga. Dimana Alhamdulilahnya, saya di 2026 mengembangkan keahlian baru dan bisa menyelesaikan pendidikan profesi Advokat dan menjadi Advokat.

Seperti Alloh memberikan pelajaran terlebih dahulu, bagaimana beracara, juga bagaimana harus berpihak pada keadilan. 

Seolah diberitahu, bahwa begitulah perasaan orang yang di dzolimi. Begitulah perasaan orang yang berhubungan dengan APH. Atau sederhananya, begitulah tata cara berperkara.

Agar bisa di ingat, bahwa, jika kamu taat, dan kamu memilih jalan ini, maka hendaknya kamu tetap berpegang teguh pada yang Maha Kuasa: Alloh SWT.

Jadi, jadilah advokat yang bertintegritas.

Belalah orang yang seharusnya di bela.

Ternyata, orang tidak salahpun bisa diperkarakan.

Bisa dikorbankan.

Bisa dipidanakan.

Itu rahasia umum memang, dan segala tetek bengek 'aliran' didalam pengurusannya.

Bagaimanapun, terima kasih ya Alloh,

Terakhir, izinkan saya berdoa dalam bahasa sunda buhun, Doa saya: "Ya Alloh....Ya Muhammad....

- Pangjungjungkeun harkat darajat

- Pangbukakeun lawang rizki

- Pangbukakeun lawang kasenangan jeung kamulyaaan

- Pangjauhkeun dina sagala cobaan jeung dojaan

- Pangdeukeutkeun jeung ilahi robbi.


Amiin YRA..


Wowlohuaallam bi showab..


Okt 2026

- rikiganas

Sabtu, 04 Januari 2025

Tahun Baru 2025

Tidak terasa bukan?! Sekarang sudah di Tahun 2025: Tahun Baru, tahun Ular --menurut kepercayaan fengshui tiongkok.

2024 yang sudah dilewati begitu sibuk. Saya masih (dan akan tetap) bulak-balik Serang dan Garut. Karena dua tempat usaha yang sedang di Jalani (ada dua kantor, ada dua kelompok karyawan, dan ada dua temapt dlama mengajar sebagai dosen).

Di Garut sekarang bertambah, dengan aktifnya di Golkar Kabupaten Garut (khususnya bidang kepemudaan dan AMPG), juga saat ini sudah ikut tergabung di KADIN Kabupaten Garut.

Tapi, sejauh ini saya belum berencana untuk pindah domisili. Tetap masih di Serang. Mengisi Kantor Serang untuk alamat dan surat menyurat juga untuk kepentingan administrasi lainnya.

Secara alam, Garut tentu lebih nyaman dan enak. Kesehatan juga kebersihan udara arau alam sangat mendukung kesehatan. Terutama juga untuk tumbuh kembang anak-anak; sangat bagus. Jika di Serang kita sering sakit-sakitan (minimal masuk angin), di Garut walaupun cuaca sangat dingin, bisa dihitung dengan jari di kerik.

Anak-anak juga begitu senang dari sisi alamnya. 

Yang kurang memang aktifitas bisnis dan budaya kerja; sangat selow, tidak secepat di Serang.

Peluang bisnis tidak bisa dilakukan dengan gercep. Sangat selow. Budaya ngopi nongkrong dan selow seolah menjadi darah daging. Juga ketersinggungan dan kurang terbukanya masyarakat masih mendominasi sifat umum sosiolig di Garut.

Di Garut kami tidak tinggal di Subsidi (beda dengan di Serang; tapi kondisi masyarakatnya hampir sama dengan orang-orang yang tinggal di rumah subsidi.

Kecenderungan orang Garut halus di luar tapi 'jahat' di dalam. Beda dengan orang Serang, yang biasa sangat terbuka baik diluar maupun di dalam. Orang tidak suka menunjukkan ketidaksukaannya. Orang senang menunjukkan kesenangannya. Beda dengan di Garut khususnya, dan Jawa Barat pada umumnya.

"Beungeut nyanghareup, hate nyangigir" Itu ungkapan umum yang seolah menjadi steorotif orang sunda priangan (termasuk Garut). Bagaimana orang tersebut di Gambarkan adanya perbedaan antara Sikap yang dia tunjukkan dengan pikiran dan Hati yang dia percayai/lakukan. Sehingga tidak heran jika kita harus selalu berhati-hati dalam melangkah. Karena bisa jadi menghambat bisnis kita; minimal tidk mengganggu tetapi jadi ngeribetin.

Beda dengan budaya Serag (Banten pada Umumnya), walaupun sama-sama suku sunda (ditinjau dari segi bahasa). Orang Banten cenderung sangat terbuka dan egaliter. Jarang ada yang menunjukkan ketidaksesuaian antara hati dan perbuatan. Inilah yang disebut orang terkadang dengan istilah Dusun, Kasar dan seolah tidak punya sopan santun.

2025 kelihatannya masih berkutat pada UMKM tetapi akan mulai porsinya saya geser ke perdosenan dan konsultan (usaha). 

Di UMKM lebih penekanan menjadi pengusahaanya daripada hanya mendampingi dan mengkonsultasi orang.

Di Dosen sebaiknya mulai membuka peluang-peluang agar lebih profesional, bukan hanya sekadar mengajar dan meneliti apa adanya.

Di Usaha, PT ini akan saya kembangkan lebih jauh. Baik dari sisi peluang bisnisnya maupun tim bisnisnya. Tidak bisa bisnis ini dijalankan asal-asalan.

Sejauh ini, belum ada rencana untuk pindah baik homebase dosen ataupun domisili. Mungkin butuh waktu. Tapi intinya mengikuti apa yang sudah di gariskan Tuhan untuk Saya.

Saya hanya menjalani, sambil selalu berusaha lebih baik dari tahun ke rahun.

Demikian,

Terima Kasih

-Riki Gana S-

Jumat, 25 Oktober 2024

KRL Kota

Saya banyak jalan. Utamanya ikut kegiatan UMKM. Lainnya karena sekarang punya dua homebase: baik kerja dan usaha, di Serang dan Garut.

Posisi sekarang ada kegiatan dari kementrian koperasi dan umkm. Sebelum nomenklaturnya dipisah di peride pak prabowo baru-baru ini.

Posisi nulis sekarang ada di KRL. Dari bogor menuju jakarta. Nyobain. Disela-sela kegiatan.

Hanya dengan 6000 rupiah, bisa sampai manggarai dan jakarta.

Berkali-kali saya bangga: pada KAI. Betapa sekarang saya merasa hidup beneran di negara kota.

Dulu, ribet susah dan tidak aman kalo bicara kereta.

Sekarang, jauh2lah dari pandangan itu.

Waktu saya ke singapur, berpikir, kapan ya di indonesia kayak di singapur. Yang kayak bener-bener modern dan tidak kampungan.

Ternyata tidak lama, sekarang indonesia pun mantap.

Dimulai dari transportasi perkeretaannya.

Bisa murah. Nyaman. Dan merdeka.

Demikian,

Sudah sampai cawang.

____

KRL Communiter Line Jabodetabek, 25 oktober 2024.

Riki Gana S


Kamis, 02 Mei 2024

FENOMENA AZWAR, SAYA & METAL

Selamat untuk Azwar Anas (metalurgi 2004) yang telah sukses, lolos jadi anggota legislatif di Kab. Serang. Keren!!

Walau syarat jadi caleg min. SMA. Tapi, harus disadari, jaringan yang anas dapat, dimulai saat dia datang ke Banten, untuk kuliah di Metalurgi. 

Saya teman sekelas Azwar Anas (Kami sekelas biasa menyebut azwar, dia keliatannya lebih nyaman di panggil anas). 

Untuk Anas, secara khusus saya sarankan untuk berterima kasih kepada dosen/pembimbing/kajur yang telah meloloskannya di metalurgi UNTIRTA; hingga selamat menyandang gelar S.T. 

Ini menarik, karena membuktikan: *tidak selamanya* nilai akademik selaras dengan kesuksesan seseorang. Boleh jadi Nasakom pada bidang tertentu, (nasakom: istilah umum untuk yang nilainya tidak memenuhi ambang batas) ternyata *kurang berpengaruh* pada bidang yang lain. *Adakalanya* kesuksesan tidak linier dengan nilai akademik ketika kuliah S1.

Mungkin ada beberapa (atau banyak) mahasiswa/i metal yang tidak lolos, dan tidak semulus *case* azwar anas ini --beberapa saya tau dan kenal--

Ada yang dipersulit. Ada yang menyerah. Ada yang mutung/pundung. Akhirnya, mereka tidak bisa lulus, tidak bisa menyandang gelar ST Metal. 

Beberapa ada yang hilang arah dan seolah-olah 'madesu'; Atau setidaknya butuh waktu lama untuk bangkit kembali, dan melupakan metalurgi.

Secara pribadi, saya dan Anas berteman, tapi bersaing! Dalam setiap diskusi, kami selalu kontra, jarang sepemahaman dan selaras; Saya terlalu rigid dan sistemik. Anas terlalu meluas dan loncat-loncat. Hasilnya: yang ada kaitan dengan akademik dan metal saya menang, tapi kalo sudah dibawa ke urusan 'ngawang' luar, saya selalu kalah. 😀

Di kelas. Di teman-teman 04. Untuk alasan akademik, terkadang anas kena "bullyan." Seinget saya, anas lebih banyak berteman dengan orang luar, dibandingkan dengan teman seangkatan. Malah mungkin lebih banyak berteman dengan adik kelas.

Bagi kami, anas bukan teman nongkrong yang asyik. Karena disetiap obrolannya selalu mendominasi, dan hanya berisi doktrin-doktrin yang tidak kami mengerti --khas orang yang terlalu banyak menerima informasi.

Anas dari awal sudah melanglang buana di organ eksternal. Berkebalikan dengan saya yang banyak berkutat di internal, dan organisasi profesi keinsinyuran. Di eksternal saya sekadarnya (Note: saya pernah di LDK IKMA dan ikut pengakaderan KAMMI, pengkaderan HMI, dan pengkaderan HTI; dulu saya sempat sebagai ketua Gema Pembebasan FT).

Kenapa saya fokus di internal? Karena saya kurang duit, kurang jiwa juang, malesan. Tujuan utama saya, hanya lulus cepat dan cari kerja. Dan juga karena... Saya numpang ngekos di himpunan, selama satu tahun. Wkwkwkw....

Waktu saya jadi Kahim Metal. Anas sudah lama aktif di KAMMI. Waktu saya nyalon ketua BEM FT, kami bersaing, Anas mendukung anak Kimia yang didukung oleh KAMMI. 

Saya kalah, tapi saya 'tetap respek' pada cara-cara kemenangannya. Saya banyak belajar mengenai perpolitikan dari kekalahan itu; terutama tentang tidak baper dan kemenangan adalah jalan ninjaku, apapun caranya! 😀

Setelah kalah nyalon BEM FT, saya aktif di BEM Pusat UNTIRTA. Dan Anas, seinget saya tetap berpetualang, terdeteksi ikut lembaga yang dipimpin oleh Ray Rangkuti (koreksi jika salah, sebab rasanya anas tidak pernah betul-betul masuk di PKS).

Setelah lulus, as usually, saya bekerja sebagai karyawan di pabrik 'ilmu metalurgi.' Anas sudah masuk demokrat. Saya tahu, karena dia sempat 'pamer' sedang pertemuan dengan bupati Lebak 'bu iti'.  Saat itu saya lagi getol-getolnya berjuang untuk pemekaran Lebak Selatan melalui pembimbingan SDM di Ikatan Mahasiswa Cilangkahan (IMC).

Setelah saya berhenti kerja di pabrik. Anas sudah jadi BAPPILU Demokrat Banten. 

Saya kemudian memutuskan ikut politik. Saya masuk Golkar, melalui kampus Golkar: Golkar Institute. Satu waktu, ada yang tag anas, saat saya posting mengenai Golkar di FB. Anas menanggapin. Kemudian, iseng saya komen: "bro, gimana kalo gw masuk Demokrat?". Dia balas: "ente sudah bagus di Golkar untuk belajar." 😀

Nah sebelum saya tutup tulisan ini, saya menyampaikan tiga hal dari fenomena diatas:

*1. Point:*

Untuk menjadi insight bersama: baik stakeholder jurusan maupun civitas academica metal, termasuk ALUMET. Barangkali fenomena ini sesuai dengan point kampus merdeka. Hard skill terkadang hanya menyumbang sekian persen akan kesuksesan seseorang. Soft skill justru yang mendominasi hal tersebut. Passion/gairah orang berbeda, agar bisa terjembatani dan tetap ada irisan dengan keilmuwan metalurgi, alangkah baiknya kurikulum metal saat ini mengacu pada OBE (berbasis Outcome, bukan input); untuk kupas tuntas OBE biar para akademisi metal yang menjabarkannya (maaf kalo semisal metal sekarang sudah OBE juga, barangkali saya yang kudet selaku alumni. 😀)

*2.Kelemahan*:

Secara akademik, menurut amatan saya, anas kurang ada chemistry dengan Metalurgi. Akhirnya, kelak dalam perannya selaku DPRD Kab. Serang, kita tidak akan menemukan loncatan besar mengenai kebijakan2 yang berkaitan dengan ilmu metalurgi di Kab. Serang. Misalnya: tentang isu pertambangan dan energi, contoh galian pasir, dll. Dia akan lebih banyak berkutat pada persoalan-persoalan umum demi merawat konstituennya.

*3.Solusi:*

Jika Anas mau, juga ada uang dan peluangnya, bisa rekrut Tenaga Ahli bidang metalurgi. Untuk apa? Untuk membuktikan bahwa Anas betul anak metalurgi dan mengamalkan keilmuannya. Juga sebagai timbal balik terhadap metalurgi untirta yang telah membesarkannya. 

Lantas, sebagai jembatan, apa yang harus dilakukan kampus atau Alumet? Undang dia, 'paksa' untuk cerita kemetalurgian. Apapun itu, pasti ada irisannya. Untuk apa? Untuk membuktikan, bahwa metal untirta pun mampu mengantarkan orang dengan tujuan  yang berbeda. Jangan diabaikan!

Sekali lagi, selamat Bro Anas!

Ternyata perjalanan ini menyenangkan. Tunggu ane di puncak karir, agar kita bisa berseteru di jalan yang asyik, dan seru! 


Salam metal!

Happy weekend 

___

Garut, 9 Maret 2024


Minggu, 12 November 2023

Emosi Jalanan

Selama saya aktif berkendara, terhitung ada tiga kali kejadian mengenakan.

Di motor, sempat ditabrak orang.

Di mobil brio, juga ditabrak bis sampai ringsek.

Saya lupa tepatnya kapan (waktu terjadinya). Alhamdulilahnya, selamat dan tak pernah cedera parah.

Sebetulnya yang bikin emosi bukan sebab cederanya, tapi terkadang perilaku pengendaranya tersebut: mohon maaf, cenderung barbar dan banyaknya seperti orang yang tak makan bangku sekolahan.

Ngotot ..

Marah ..

Nada tinggi, dan selalu dusun kata-katanya.

Saya paham: karena mereka takut disalahkan. Dan kenyataannya memang salah, dan takbisa di elakan.

Sayangnya saya pun pemarah (masih kebawa budaya jawara banten kidul). Dalam dua kejadian diatas, saya balik marah dan merasa diatas angin. 

Ikut ngotot juga

Ikut bentak-bentak juga

Ikut marah juga

Yang akhirnya cape juga, hanya ngerasa puas yang semu. Gak dapet apa-apa. Ujungnya ya masuk asuransi juga. Ujungnya orang-orang itu gak mampu bayar/ganti juga. Kebetulan secara ekonomi saya paham orang-orang tersebut sebagai pencari receh.

Sebagai orang yang lebih tinggi dari mereka. Kadang dihati kecil mengakuinya. Hanya yang disayangkan, perilaku buruk tidak membuat mereka sadar diri. 

Gaya jalanan, asal bentak, cara mereka menyelesaikannya. Masalahnya ketemu dengan saya yang memang berangasan juga. Akhirnya, jadi eker-ekeran.

Saya selesaikan sendiri. Tanpa ada bantuan orang lain. Ujungnya yang sana jadi takut dan menciut.

Itu dua cerita dulu.

Ada yang terbaru, dikejadian ketiga.

Baru terjadi sekitar tengah malam lalu, saat antri isi bensin.

Posisi bareng keluarga (istri dan anak yag kecil).

Posisi tengah malam, di rest area balaraja, tukang bensin sendirian. 

Antri panjang. Saya di posisi depan. 

Maju ternyata kelewat (mobil saya lewat ke pompa pertalite -- saya isinya pertamax). Agak sedikit ngantuk, saya kurang baca petunjuknya. 

Diminta muter lagi untuk ke antrian belakang.

Saya mengikutinya.

Disaat akan masuk pompa pertamax, ada jeda satu mobil yang belum masuk (dia sedang main hp, tidak melihat kode dari kita bahwa kita akan masuk). Karena kita mau isi pertamax, maka masuklah kita ke pompa pertamax (melewati mobil tadi yang mau antri pertalite). 

Setelah diposisi mau masuk. Tiba-tiba mobil dibelakang nyerobot dan klakson berkali-kali (nyolot).

Saya masih ingat, mobil itu agya dengan plat no A 1249 RT (saya kira mungkin grab).

Dia ngomong kencang, menantang, saya mula-mula santai, kemudian kepancing.

Dia turun banting pintu dan nyamperin kita. Sebetulnya saya sudah begitu kesal, dan mau dijabanin. Bawaan ud emosi. Siap adu fisik (sejauh itu kadar intelektual jadi hilang, haha ..).

Kebetulan plat no kita B, dia A jadi ngerasa dia yang kuasa dan paling jawara (dia gak sadar saya pun sebetulnya orang banten). Saya belum nanya dan menjelaskan apa-apa, tiba2 dia nyamperin ke pintu saya nyetir.

Saya sudah siap buka pintu, cuma istri mengingatkan. Istri bilang mungkin itu orang gila. Selama dia hanya ngomel, dan tidak melakukan tindakan fisik (baik ke mobil atau keorang -- yang dia banting tadi mobil dia sendiri), ya kata istri di biarkan saja. Capek-capek meladeni orang begitu.

Tumben, saya menuruti omongan istri, sebetulnya jiwa jawara sudah mendidih, rasa-rasanya (walau dia badannya lebih besar), masih keukur dan bisa menaklukan dengan sekali pukulan. Percuma belajar cimande dan kanuragan ti lembur. Hehe...

Masa orang banten kidul di beginikan...

Tapi istri lebih rasional. Walau saya merasa harga diri di injak-injak. Sekali lagi sebagai orang banten kidul yang turunan jawara. Akhirnya saya pun menuruti omongan istri. Apalagi udah bawa-bawa maslah pendidikan dan moral. Walau tidak puas saya biarkan.

Tapi mungkin kalo nyentuh mobil atau pegang badan, sy udah gak kepikiran untuk sabar. 

Itu juga masih kepikiran ada anak di belakang. 

Andai saya turun, malu juga dilihat banyak orang.

Singkat cerita, orang itu masih mengomel (walau keras tapi tidak menggunakan kata kotor, hanya provokasi: sini keluar, sini keluar!)

Kemudian, petugas pom datang, mempersilakan kita untuk ngisi di pompa sebelahnya. Artinya mungkin mereka juga menyadari bahwa tak perlu meladeni oramg seperti itu.

Saya pindah pom.

Yang menarik justru kemudian ada mobil dibelakang kita: bapak2 dari pelatnya orang sumatra.

Keliatannya bersimpatik pada kita, karena dia pun bawa keluarga. Dia melihat mungkin tadi orang itu banting pintu mobilnya dan nyamperin kita sambil bentak-bentak.

Akhirnya bapak2 itu, dan nyamperin si yang agya tersebut. Dia omelin orang itu. Di ajak tanding duel sambil di kata-katain kotor.

Sesuai dugaan si agya tadi hanya balas ngomel. Ketika mereka adu badan. Gada yang beneran jotosan.

Satu sisi saya greget. Satu sisi saya merasa lucu: serasa nonton bapak-bapak yang adu omong seperti arisan, ditonton oleh banyak orang.

Akhirnya saya turun, dan ujungnya ketawa. 

Saya sudah duga. Si agya itu orangnya begitu. Untung istri mengingtkan. Andai saya beneran terprovokasi. Bisa jadi tontonan orang lain dan ada yang memviralkan. (Tanpa tau duduk permasalahnnya). Sebuah hal sia2.Hahaha... Bisa hancur reputasi.

Saya sudah tidak mengikuti. Mereka berbalas-balasan kata2 umpatan.

Saya lanjutkan perjalanan.

Serunya, dijalan ketemu lagi dengan si agya ini. Dia jadi salting, saat iring-iringan dia berhenti, kemudian jalan lagi, saya berasumsi dia mengira bahwa kita sedang mengintimidasi dengan cara nguntit dia.

Karena plat kita B, asumsi dia kita akan keluar di balaraja atau sekitarnya. 

Nyatanya kita keluar di pintu tol yang sama dengan dia (serang timur). Otomatis kita bisa posisi didepan dia, atau dia yang ada di belakang kita. Secepat-cepatnya agya dan jalurnya sama, ya pasti kesusul sama kita.

Sempat terbersit ingin ngeberhentiin dan mau nanya yang sebenernya. Lagi-lagi istri mengingatkan. Agar jangan diladeni. Satu sisi takut orang nekat. Sisi lain bikin riweuh sendiri. Manjang2 pikiran tidak produktif. Kalo ngikuti emosi, saya masih gendek, sejagoan apa orang tersebut. Sepengaruh apa. Istri mengingatkan: mungkin dia tukang grab yang ga dapat2 penumpang sedangkan aslinya dikejar2 utang. Makanya bisa nekat.

Saya mengiyakan. Sampai kita ke serang timur. Walau beriringan, tapi tidak kejadian sampai saya turun.

Terlihat memang dia agak kaget. Terbukti ketika sampai cikande, tiba-tiba dia berhenti dan melambat. Mungkin berharapnya kita keluar dan dia lanjutkan perjalanan dan tidak ada jejak. Nyatanya kita 'seolah-olah' mengikuti dia sampai serang timur.

Saya masih kecewa, dan hampir terbersit pemikiran aneh. Misal: manggil temen2 polisi untuk nyegat (tetangga2 yang biasa nongkrong di pos dijam segitu), atau temen2 baragajul biar ngasih pelajaran. Tapi, ternyata saya sudah beda, alhamdulilah bertambah umur agak lebih bijaksana.

Saya pikir: mungkin saya juga ada salahnya. Komunikasi tidak clear, sehingga timbul salah paham.

Akhirnya semua berakhir seperti itu. Walaupun emosi tidak terpuaskan, tapi semua sudah terlewati dengan baik.

Banyak pelajaran dari kejadian panjang yang tadi di ceritakan.

Intinya: lebih baik cari selamat. 

Tapi jika memang kita terdesak, tidak mengapa kita melakukan tindakan. Asal jangan yang duluan. 

Kalo hany verbal kita abaikan. Kalo sudah fisik (sebaiknya rekam). Untuk bukti ke polisi sebagai laporan. 

Jika kita balas fisik, ya tidak mengapa sebagai upaya pembelaan. Jika tidak pun kita menghindar menjauh. Dua kondisi tadi harus di akhiri dikantor polisi: jika terjadi.

Jangan lagi pakai cara jawara. 

Tariklah ke sisi hukum. Apalagi saya dan istri yang sama-sama kuliah hukum.

Jalanan menciptakan kondisi yang tidak stabil. Ditambah motif ekonomi yang mendesak. Sehingga, kita perlu awas dan wasapada. Akan apa yang terjadi: selalu siapkan antisipasinya!

Demikian,

Bandung, 12 Nov 2023

(Riki Gana)

Jumat, 29 September 2023

MC Maulid GGR


Bismilah....

Ashadualailahailawohwaashadu anna muhammadurosulawloh.

Allohumasoli ala syaidina muhammad, waalaali syaidina muhammad.

Robi shorli sodri wayasirli amri, wahlul ukdatamikisani yapkoukouli.

Yth, para sesepuh dan para tokoh di linkungan cipicung khususnya di komplek GGR, termasuk sesepuh keluarga besar DKM syahidur rohmah.

Yang terhormat, mewakili umara/pemerintahan: RW dan RT dilingkungan desa cipicung, terkhusus kepada pak RW, pak RT.03 dan pak RT dilingkungan Green Garden Residence.

Ysh, mewakili pengembang/developer GGR, pak Ano, pak ismet, dan bapak/ibu yang mewakili lainnya.

Yth, bapak/ibu warga GGR, jamaah syahidurohmah, yang saya cintai, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Dan,

Ysh, yang kita cintai bersama, yang sudah menyempatkan untuk hadir memenuhi undangan kita, al mukarom, ustadz deden, yang terkenal dengan sebutan ustadz Cinta.

Tepuk tangan bapak ibu...

Nah, ini menarik bapak/ibu, mengenai Cinta ini, kebetulan GGR sebagai komplek baru yang didominasi oleh generasi muda (lahiran 80-90) akan sangat relate dengan cinta, lagi hangat-hangatnya, sangat cocok dengan branding ustadnya dan juga sesuai dengan acara kita dalam rangka menghidupkan cinta kepada Nabi kita muhammad SAW.

Tepuk tangan bapak/ibu.....

Bapak/ibu, alhamdulilah dalam kesempatan ini (30 September 2023 1445 H), kita dapat berkumpul dan bersilaturahmi dalam acara kita bersama, dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, junjungan kita bersama, sebagai suri tauladan bagi kita umatnya.

Perkenalkan abdi Riki Gana, anu linggih di Blok A14 (ada plang notaris), memandu acara ini, dari awal dugi ka rengsena. 

Sateucana berlanjut, mohon izin kasadaya, pami bahasana bercampur, antara sunda dan nasional. Satu hal karena abdi lebih terbiasa berkomunikasi ku bahasa indonesia, hal lain, abdi ti Banten, walaupun rumpun sukunya adalah suku sunda, tapi ada beberapa kata yg memang tidak sama antara disini dan disana. Khawatir menimbulkan salah persepsi.

Karena ini kejadian bapak/ibu: baru-baru ini, abdi ada komunikasi ke salah satu dinas di pemkab garut, staf menggunakan kata "ngarurusuh" dan tejadi salah sangka. Maksud di garut itu - penjelasan akan satu hal untuk tidak bisa terburu2, tapi konteks di Banten artinya kasar artinya dia merasa ditekan karena harus segera menyelesaikan dan dia gak sanggup sehingga ngajak berantem (rusuh). Saya tersinggung, marah dan berdiri agak kenceng. Untungnya di clearkan oleh kabid (atasannya). Karena arti dan maksudnya berbeda. Hehehe..

Begitulah inti salah komunikasi. Harus saling paham antara satu dan yang lainnya.

Bapak/ibu sekalian, supados teunyangkolong kana waktos, berikut susunan acara kegiatan kita pada kesempatan kali ini, yaitu:

1. Pembukaan (bersama-sama mengucap basmalah).

2. Pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh ust. Hadi (salah satu fungsional DKM shahidurrohmah).

3. Pembacaan shalawat yg dipandu oleh ibu Dedi/umi.

4. Sambutan-sambutan (sambutan selamat datang dari rt perwakilan GGR).

5. Tausyiah oleh ustadz deden.

6. Do'a bersama dipimpin ustadz deden.

7. Penutup dan makan bersama.

Bapak/ibu yang terhormat, demikian rangkaian acara tersebut, selanjutnya mari kita mulai acara ini dengan membaca basmalah bersama-sama.

Dst......

___

Garut, 30 September 2023

Rikigana

Selasa, 18 Juli 2023

Dingin Garut

Pagi dingin di Garut, yang tidak akan terjadi jika masih di Serang (yang temperatur ruangnya sudah panas).

Suasana segar, bisa bersepedahan dan jalan-jalan pagi melihat warga masyarakat beraktifitas.

Tidak ada muka-muka kesal kesiangan, tidak ada serobot-serobotan -- hal lumrah yang terlihat di jalanan kota serang dan cilegon.

Alam mempengaruhi pola bersikap manusia.

Pagi ini anak-anak memulai aktifitas di sekolah negeri di sini.

Sebelumnya bersekolah SDIT di serang Banten. Tentu ada perbedaan. Tapi, sy bersepakat dengan istri itu merupakan bagian dari dinamisasi bergaul.

Si sulung, si kaka, memang agak pemalu. Sudah kelas 4 sewaktu di SDIT Serang tapi temannya terhitung jari (mungkin introvert). Kecenderungannya dia agak susah bergaul dan pemalu. Tapi kalo sudah ada yang cocok, dia akan berteman dengan setia. Banyaknya memang di rumah.

Pindah kesini, naik kelas 5, masih terlihat malu-malu, tapi ada kemajuan, hari pertama dia sudah punya teman baik disekolah maupun di komplek rumah.

Selamat pagi Garut...

Semoga keberkahan dan kelimpahan rizki selalu mengalir deras atas izin Alloh SWT kr keluarga kami.

Aamiin YRA...

Minggu, 16 Juli 2023

Tanggal Penting

Hari sabtu juli, tanggal 08 tahun 2023 itu tanggal penting, mesti diingat-ingat. 

Pagi di Depok.

__

Hari Minggu Juli, tanggal 16 masih di Tahun 2023, tanggal penting, mesti ingat-ingat.

Sore di Serang.

__

Betul, manusia hanya mampu berencana. Tuhanlah yang punya kuasa. Mutlak.

Banyak keputusan penting yang tidak direncanakan, tapi harus dilakukan. Tentu itu sudah takdir dari Yang Maha Kuasa.

Banyak rencana yang dicanangkan, tetapi aktualnya tidak terealisasikan. 

Banyak hal yang tidak diduga-duga terjadi, dan ternyata itu demi kebaikan. Termasuk cobaan-cobaan yang mengukur kadar keimanan.

Bukan pada masalahnya kita fokus, tapi pada penyelesaian dan hikmah yang didapat dari cobaan tersebut! Selama saya hidup, rasanya banyak hal positif yang terjadi, ketika menghadapi dan mampu melewati semua cobaan.

__

2023 bagi keluarga, terutama saya, merupakan tahun penuh loncatan-loncatan. Dari 2020-2022 tahun yang selow, santai, merangkak landai karena akibat pandemi covid-19, kemudian menggeliat dan meloncar di 2023.

Mungkin agak kaget, kalau tidak terbiasa. Nyatanya, saya rasakan itu sebuah hal wajar, berdasarkan pengalaman yang suda dilalui.

Tahun ini, sekeluarga kita putuskan untuk mengembangkan sayap di daerah Jawa Barat (tidak tepat disebut hijrah, karena nyatanya pengembangan).

Tepatnya ke daerah Garut. Pekerjaan dan kantor ada perluasan di daerah sana. Otomatis frekuensi tinggal, akan lebih besar di rumah garut di bandingkan dengan rumah serang. Aktifitas selama 2023 mungkin masih pulang pergi, karena beberapa pekerjaan pun masih kami lakukan di Banten.

Saya juga masih harus menyelesaikan kuliah hukum saya yang notabenenya diselenggarakan di Banten. Pekerjaan dengan kontrak kominfo untuk mendampingi UMKM pun masih dilakukan di Banten. Juga, sebagai dosen tetap di salah satu perguruan tinggi di Banten -- hal ini otomatis aktifitas selama tahun2 ini masih di Banten; termasuk pekerjaan istri (notaris dan PPAT yang masih ada terkait dengan client di Banten.

Yang paling kerasa pindah, mungkin anak-anak. Karena menyangkut sekolah, yang pada sistem pendidikan di indonesia belum tercover dengan moving. Makanya harus stay.

--

Sementara itu dulu, dhuhur dan persiapan UAS di UT, kemudian sore berangkat ke Garut 

Semoga usaha ini lancar dan selalu dalam ridho Allah SWT. Aamiin YRA...

Minggu, 26 Februari 2023

Keputusan Minim Etika

Bicara masyarakat (terutama di lingkungan paling bawah yang heterogen) memang tidak ada habisnya. 

Selalu ada distorsi.

Tapi ini bisa jadi menggambarkan kenyataan dari lingkungan yang ada di indonesia.

Saat ini saya tinggal di dua tempat. Di daerah/provinsi yang berbeda (saya ada dua rumah: satu subsidi, satu komersil -- tapi secara organisasi digabungkan dengan yang subsidi). Saya pun berasal dari lingkungan kampung.

Fenomena kemasyarakatan di tiga lingkungan tersebut hampir sama (lebih fokus kita akan bicara orang-orang yang menduduki posisi organisasi di masyarakat)

Dalam pola pengambilan keputusan, kadang memaksakan kehendah tetapi mengatasnamakan masyarakat luas.

Padahal ini lingkungan kecil, yang semestinya terkoordinir dengan baik -- minimal komunikasi.

Dan selalu ujung-ujungnya kepentingan yang ada duitnya.

Itulah kenyataannya. Sebagai pengingat, juga sebagai kajian untuk topik selanjutnya.

Demikian.

Kamis, 24 November 2022

www.regest.wordpress.com

Adeuh .. gara-gara kemudahan menulis di wordpress (ada aplikasi untuk android hp), saya jadi banyak update disana. 

Blogspot sedikit terlupakan. Tadinya disana hanya untuk keilmuan, tapi karena mudah dan tampilan bagus, akhirnya semua saya masukkan disana.

Yowes...

Bagi yang ingin baca dan melihat, kunjungi https://regest.wordpress.com/

Terimakasih

Sabtu, 12 November 2022

SEDERHANA YANG RUMIT


Kadang saya males mikir yang rumit-rumit. Complicated. Lebih enak mikir sederhana "sakadeuleuna."

Misal, saya tak habis pikir kalo maen ke kampus (yang): Kok toiletnya masih parah, ya? Kok parkirnya masih saja acak-acakan? Kok layanannya tidak beorientasi kepuasan pelanggan? Kok bangunannya tidak mencerminkan standar K3? Kok sampah masih dimana-mana? Kok budaya feodalnya gak hilang-hilang?

Kok..kok..kok..?!

Padahal, bukankah teori-teori itu (yang katanya disertai praktek) diajarkan disana? Padahal, bukankah banyak ahli dengan gelar mentereng disana? Padahal, berderet acara bombastis disana (ngebahas isu-isu tersebut)? Padahal banyak ahli dari sana yang 'show up' dimedia?

Lagi-lagi saya berpikir sederhana.

Kok bisa begitu, ya? Rasanya jadi kontradiktif. Kayak ngajarin anak jangan ngerokok, tapi bapaknya ngerokok depan anaknya. Ngajarin anaknya untuk sholat, bapaknya gak pernah sholat. "Anak kencing berdiri, bapak kencing berlari."

Memang, Knowledge dan Skill itu perlu, tapi attitude lebih utama. Mahasiswa selalu dijadikan objek, dijejelin teori, tapi ditutup matanya biar tetep memakai kacamata kuda. Diruang kuliah, banyak dongeng tentang ideal, di ruang kenyataan, banyak hal yang bertentangan.

Ah, baiknya tulisan ini jangan diteruskan. Jadi gak sederhana lagi. Mending kita makan, di rumah makan sederhana, yang kenyataannya (juga) tidak sederhana.

Sungguh hidup ini tidak bisa hanya dengan pemikiran sederhana. 😂

__

Serang, 11 Nov 2022

Riki Gana S

Jumat, 21 Oktober 2022

MBAK NANA



(RELATE - UNRELATE)

Saya selalu ketinggalan info rame. Yang lagi trending. Yang lagi happening. Yang sebetulnya bisa digoreng dalam tanggapan berbentuk tulisan.

Sebetulnya kadang saya juga meninggalkannya, sengaja; satu sisi karena malas, lainnya untuk menghindari atensi yang berlebihan.

Ini bukan soal resesi 2023 atau mundurnya PM Inggris.

Ini menyoal perkataan mba Nana (Najwa Shihab), yang waktu itu sangat viral, tentang gaya mewah (oknum) polisi & keluarganya -- pada konteks kasus Pak Samba.

Dalam satu fragmen, mba Nana bicara (kurang lebih): "kita sebagai publik tahu dan bisa berhitung, berapa gaji mereka, tunjangannya, dll nya. Mereka kan pegawai pemerintah: mau Polisi, TNI, PNS, pegawai BUMN, BUMD, semua menggunakan uang rakyat, uang dari rakyat yang dibayar dari pengumpulan pajak-pajak masyarakat, dari kelas pengusaha kakap sampe kelas masyarakat bawah (misal: buruh tani). So, mereka tidak layak bergaya seperti itu, dapat uangnya dari mana? Aneh kan? bla-bla-bla...."

Sebetulnya saya setuju. Tapi, saya punya perspektif lain (secara umum), terutama dari latar belakang daerah kami;

Asal anda tahu, Mba Nana. Tidak semua yang jadi 'orang' itu awalnya dari keluarga seperti Mba Nana, yang lahir dari keluarga kaya-terdidik dan punya privilege.

Ungkapan anda sangat tidak relate dengan kami -- kaum urban pencari 'harta, kuasa, dan tahta'.

Kami adalah orang2 kampung di ujung barat pulau jawa, tepatnya agak 'belah' kidul (kalo dari skup wilayah provinsi). Kami adalah orang2 marjinal, yang dulunya tidak mendapatkan atensi lebih oleh lingkungan. Kami orang miskin, tidak berpengaruh, dan selalu menjadi objek orang-orang gedean.

Sebagian kecil dari kami adalah orang-orang kelas menengah keatas (untuk ukuran orang kampung). Yang juga harus mempertahankan gaya mewah kami. Untuk tetap diakui. Untuk tetap dihormati.

Mba Nana gak perlu heran.
Bagi kami yang (sebetulnya) pendapatannya pas-pasan, penghasilan tambahan (yang lebih besar) itu suatu keharusan. Tidak peduli dengan cara apapun. Mau ngempit mau ngutang, yang penting apa yang bisa kami mainkan, ya kami mainkan. Halal-haram itu soal kesekian. Setiap ada peluang, disitulah ada 'jalan'.

Mba Nana juga perlu tahu:
(saya akan bicara fenomena, bisa jadi ini fakta).

Menjadi pegawai negeri sipil, aparat polri-tni, pegawai pemerintah atau turunan2nya, merupakan cita-cita yang 'dipaksakan' orang tua di daerah kami; satu sisi sebagai jalur aman masa depan anak, satu sisi sebagai simbol pengakuan dimasyarakat.

Apakah salah? Tentu tidak (pada awalnya).
Mungkin agak kurang tepat. Karena bisa salah memahaminya. Terutama ketika timbul mindset yang mendorong hasrat untuk bermewah-mewahan (sebagai simbol kesuksesan). Yang mendorong orang untuk bersikap bablas, diluar kemampuannya.

Misal: diera medsos saat ini (dimana umumnya orang2 kampung kamipun maen sosial media), kami berkewajiban untuk update dengan gaya-gaya hedon, supaya dilihat oleh temen2 sekolah, tetangga2 di kampung, sodara2 jauh yang julid; status ini sangat penting bagi kami! Kami harus terlihat mewah! Kalo tidak, kami masih dianggap sebagai orang gagal..

Mba Nana juga pasti nggak tahu,
semenjak sekolah menengah dasar, kami sudah disuguhkan gaya-gayaan. Kami sengaja menciptakan kesenjangan. Biar jelas mana yang kelas bawah, mana yang kelas menengah keatas. Kami didukung oleh keluarga kami. Saat ada kenakalan remaja, sangat jarang kami melihat wujud kebijaksanaan dari para orang tua. Banyaknya kami didukung, untuk menjadi arogan: "Eta gagah! Anak Aing!".

Mba Nana...
Bagi kami, mendengar ungakapan: jika ingin menjadi pns, tni-polri, pegawai itu butuh sogokan, itu hal yang sangat lumrah! Dan biasa-biasa saja; biasa kami obrolkan di warung kopi, pos ronda, pasar, atau dipengajian2 desa/kampung.
Malah lebih ekstrim, kemampuan menyogok, menjadi sebuah kebanggaan para orang tua sebagai wujud 'kemampuan ekonomi' (sebagai pembeda dengan kelas lainnya).

Dilain sisi, Mba Nana...
Di daerah kami itu masih banyak generasi 'sandwich', yaitu kelompok usia dewasa yang harus menanggung hidup tiga generasi, yaitu orangtuanya, diri sendiri, dan anaknya. Tak jarang sandwich ini, juga harus menanggung hidup anggota keluarga besar lain, seperti saudara, baik dari pihak istri/ibu ataupun pihak ayah/suami.
Nah terus, uangnya dari mana..?!

Mba Nana...
Latar belakang sosiologis kami begitu kompleks. Untuk itu, demi kebaikan bersama, mending tarik ulang pernyataannya. Biarkanlah kami merajalela!

Saya rikigana, tidak siap DISOMASI!
😄🙏
___
Serang,
Jum'at, 21.10.022

Minggu, 02 Oktober 2022

TRAGEDI BOLA MALANG

 Waktu saya kecil, dikampung, menyaksikan orang gulet saat tarkam bola itu biasa. Polanya sama:  kalah, marah, provokasi, pendukung tawuran. Kadang berlanjut sampai tawuran antar kampung/desa. Malahan saya pernah menyaksikan, ada orang adu tarung pake golok, sampai bacok-bacokan. Tapi tak pernah ada yang meninggal. Selalu ada ujung yang baik, didamaikan oleh para tokoh (tetua) dan kemudian clear. Sangat sederhana. Tanpa pengamanan ekstra. Tanpa sistem dan tanpa  bla...bla...bla...


Skala besar, perputaran uang besar. Pasti ada standar. Pasti ada prosedur. Pasti ada sistem yang establish. Secara utuh. Tak mungkin ecek-ecek.


Saat ada tragedi dan kejadian luar biasa ini (menewaskan lebih dari 100 orang), saya yakin pasti ada keliru akut. Bukan sekedar human error.

Apakah itu? Hanya Tuhan dan mereka yang tau!

__

Turut berduka untuk tragedi di kanjuruhan Malang. Doa terbaik terpanjatkan untuk para korban. Aamiin YRA.

Rabu, 07 September 2022

Garut 2022 (Rencana Hijrah)

Saat ini, saya kira perlu menetapkan langkah, meninggalkan masa lalu, untuk menatap masa depan dan menyusun ulang 'pesan' kehidupan, tanpa beban dan bayang-bayang waktu yang sudah berlalu.

Semoga sukses menghampirimu.

Bismilah

Senin, 08 Agustus 2022

Masyarakat (Lagi)

Alhamdulilah, saya sudah tepat 36 tahun di 23 juli 2022 kemarin. Rasa-rasanya mulai matang, minimal dari segi pemikiran dan kebijaksanaan (walau tetap harus di upgrade). Kesibukanpun termanage dengan baik, keuangan demikian -- hanya keliatannya masih harus memperbesr pendapatan untuk mencukupi semua (apalagi belum tergambar untuk pensiun).

Kita tidak hendak bercerita tentang saya.

Ini tentang masyarakat lagi, yang menurut saya semakin masuk semakin menarik (tapi ingat, pembaca, semisal belum siap, jangan terlalu masuk di dalamnya, karena bisa terjadi kejenuhan, banyaknya bersifat teknis dan tidak membuat berkembang secara umum, takutnya nasuk dalam kubangan dan menjadi bosan).

Setelah saya memegang artesis (air yang dikelola sendiri, sudah berjalan 2,5 tahun dan ini di periode selanjutnya untuk 2 tahun kedepan -- s.d juli 2024), seperti yang sudah saya bilang, saya coba merambah konsep ke kegiatan2 berikutnya. Salah satunya yaitu melahirkan satuan tugas penanganan duka cita. 

Tentu saya tidak sendirian, terhitung ada 3 atau 4 orang yang membantu pelaksanaan ini (sebagai think tank). Sudah berjalan sekitar 3 bulan, ada yang sudah ditangai juga. Sejauh ini penanganan secara teknis (saat ada orang meninggal) oke, tapi dari sisi pengelolaan (terutama dana masuk dan dana keluar) masih belum oke, terutama tim teknis yang jalan untuk mengumpulkan dana dari warga (5000 per KK) masih sangat acak-acakan, asal-asalan. Struktur yang dibuat pun tidak dijalankan. Tapi, karena ini di masyarakat (tidak ada kompensasi apapun, kecuali kesadaran sendiri) maka tidak banyak yang bisa kita perbuat, tidak bisa nekan tim tersebut, hanya cukup tau saja bahwa orang-orang tersebut memang belum mampu untuk mengemban tugas.

Akhirnya, mau tidak mau harus kembali di rekatkan. Diambil alih, Diubah manajemen dan timnya. Karena jika dibiarkan akan timbul masalah yang lebih besar. Kepercayaan masyarakat menurun. Maka harus dilakukanlah apa yang dinamakan TRIMING (pemangkasan untuk menjadi lebih baik).

Alhasil, saya kembali melakukan hal teknis, keliling dari rumah kerumah untuk mengumpulkan iuran.

Tidak mengapa, justru jadi ada pengalaman menarik dan mengetahui karakter dari masing-masing warga yang menghuni perumahan bersubsidi ini.

Saya baru sadar, dan tau, bagaimana orang-orang yang menghuni perumahan, tergambar dari karakter saat dimintai iuran: begitu heterogen. Luar biasa. Tergambar dari cara berkomunikasi dan bersikap. Ada yang memang terlihat berpendidikan, Ada yang tidak, ada yang berattitude bagis. Ada yang tidak, Ada yang norak (ingin kelihatan hebat), dan ada yang low profil. Luar biasa. Say baru teradar bahwa ilmu sosiologi itu penting dan begitu harus berkembang.

Harus sabar, dan harus melatih kesabaran, terutama untuk saya yang biasanya ingin segalanya dilakukan sistematis dan dilaksanakan dengan segera sesuai rencana.

Ini beda kondisi, bukan di dunia kerja.

Sementara demikian,

Selamat pagi di hari senin ceria.

(Riki Gana)

Minggu, 17 Juli 2022

Kekuatan dan Kelemahan

Malam ini sebelum tidur, saya merenung.

Kebetulan betul-betul mata tidak mengantuk.

Saya teringat saat sesi wawancara ordinary saat ingin memasuki sebuah klub seni calung/angklung di sebuah museum di Bandung (kenapa saya ikutan? Karena saya begitu penasaran dan menikmati seni sunda).

Tentu ini bukan wawancara pertama, bahkan saya pun biasa mewawancarai orang. Ungkapan :" apa kelemahan dan kekuatan/kelebihan anda?" Merupakan hal yang biasa dan sangat2 umum. Hanya saya baru menyadari secara mendalam kalo dulu hanya menjawab hal tersebut sering bercampur dengan retorika agar terlihat bagus dan tentu bisa di terima (bukan tidak jujur).

Ternyata, kelemahan dan kekuatan saya yang sebetulnya adalah sistematis perfeksionis (kata lain suka mengatur orang secara sistematis dan detail).

Kelemahannya: setiap masuk dalam organisasi atau melihat sesuatu yang tidak pas dan teratur, pasti saya akan terpanggil untuk mengaturnya (menciptakan sistem2, dll), ini yang menimbulkan gesekan dengan orang yang sangat status quo (apalagi ada maksud pribadi/uang untuk dirinya kalo sesuatu itu di benahi). Akhirnya, timbul friksi, dan ada tekanan tersendiri (bukan karena orangnya) khususnya di kepuasan diri sendiri. Saya merasa kacau dan agak tertekan dengan hal yg lambat dan belum bisa diatur tersebut. Saya cenderung tegas, jika dirasa itu memang benar dan harus dilakukan, dilain sisi, orang sangat tidak suka berkelompok dan kemudian mereka coba memusuhi. Akhirnya keharmonisan terganggu.

Kekuatannya: perfeksionis ini membuat saya menjadi kuat dalam hal leadership dan manajerial. Hampir bisa dipastikan, ketika saya mengatur, tidak pernah ada yang menyanggah (kalopun ada secara terbuka, bisa diselesaikan dalam diskusi). Sehingga, semua visi,misi,tujuan seringnya selalu tercapai. Dan hasil akhir itu selalu membuat saya merasa bangga dan dihargai oleh diri sendiri.

Melihat dua hal tersebut, tentu ada ancaman dan peluang. Akhirnya, malam ini saya coba internalisasi untuk mendapatkan cara untuk mengatasinya (strategi). Poin utama strateginya adalah harus mampu memilah dan memilih mana yang harus dimasuki mana yang tidak. Juga harus bisa memosisikan diri. Saat kapan menjadi ini, saat kapan menjadi itu. Tak perlu semua perfect, tapi menyampaikan tidak apa-apa. Tidak harus di semua aspek terlibat. Harus memilih aspek mana yang prinsip untuk bisa dimasuki, dan mana yang tidak. Saat kapan harus jadi pemain, dan saat kapan harus jadi penonton.

Demikian

* Rikigana


Mei - Juli 2022

Menulis, dalam satu sisi, menjadi obat bagi saya. Obat untuk men deliver sesuatu hal yang di pikirkan. Agar tertata dengan baik. Agar satu persatu yang di pikirkan bisa diselesaikan. Sehingga bisa tidur dengan nyenyak.

Sehingga, saya ingin, maka saya nulis.

Saya kira perlu, maka saya tulis.

Rentang waktunya memang lumayan jeda, dari maret baru menulis kembali di pertengahan Juli.

Karena, semua rasanya hanya berbentuk aktifitas rutin yang memang cukup menyibukan, diantaranya:

Dalam pekerjaan, per juni 2022, sebagai dosen tetap di politeknik krakatau, saya dipercaya untuk memegang jabatan struktural di kampus (ketua program studi bisnis digital), di kegiatan pendampingan umk (sebagai nukula konsultan) lumayan disibukkan dengan mendampingi (menjadi trainer)sekaligus juga berlatih/training tentang berbagai jenis pendampingan umk: halal, bpom, cyber, dll). Jadi, lumayan padet dan melelahkan. 

Dikemasyarakatan saya cukup banyak terlibat, dan sejujurnya malah sebagai inisiator yang melahirkan konsep2 kemasyarakatan yg baru, ditambah merapikan organisasi2 yang ada. Di kematian dan lingkungan, saya buatkan organisasi LSO secara khusus, di DKM saya buatkan peraturan organisasi (tatib) untuk pemilihan ketuanya dan masih harus terlibat juga dalam pembenahan program dan pelaksanaannya. Di artesis, alhamdulilah  sdh berjalan, hanya rutinitas yang memang dengan waktu pasti untuk dilakukan.

Dikeluarga, alhamdulilah dua bulan ini banyak momen tercipta: di Juni 2022 anak yang bungsu (dede rajendra) selesai bersunat (jadi sudah selesai tugas untuk bersunat dua anak laki2), selanjutnya anak-anak mulai sekolah -- haura naik kelas 4 sdit, sakha masuk sekolah kelas 1 sdit, dan rajendra masuk paud (semua diusahakan sekolahnya sama, maksudnya adiknya mengikuti sekolah bekas kakaknya).

Begitulah aktual kesibukan di maret - jul.

*

(Riki gana)

Senin, 23 Mei 2022

Garut 2022

Selamat pagi, saat lg duduk di toilet hotel tulisan ini dibuat (jangan ditiru) 😄

Saat ini saya berada di garut, di hotel santika, bersama keluarga.

Alhamdulilah, ini kalo kedua ke garut, masih tetap sama, suasananya 'matak kairut.'

Perjalanan kami dimulai di sabtu pagi, dari serang. Sehari langsung menuju Bandung (Istri seminar Notaris Pembuat Akta Koperasi, saya dan anak2 menjelajahi museum Geologi Bandung).

Menginap semalam di Grandia hotel cihampelas, minggu siang kami berangkat ke Garut.

Selain main, agenda utama di Garut adalah silaturahmi istri dengan pengurus ikatan notaris indonesia (INI) daerah Garut; sekaligus ambil salah satu buku kenotariatan.

Saya dan anak-anak menemani: banyaknya anak-anak berenang. Yang ternyata airnya anget, karena dihotel santika ini ternyata berada di jalur air panas alami drajat daerah garut.

Luar biasa. Saya selalu menikmati cuaca di Garut. Enak dan nyaman. 

Kendala mungkin hanya minor. Saya menuju garut. Di jalan raya bandung - garuy di tutup polisi. Akhirnya masuk perkampungan yang jalannya hanya cukup satu mobil. Was-was. Tapi cukup terobati dengan pemandangan kanan kiri yang asri: sawah dengan latar belakang gunung cikuray.

Rencana kita pulang senin siang, setelah semua urusan usai.

Semoga saat kesini lagi, tol Getaci (gede bage tasik cilacap) sudah jadi, sehingga bisa lebih cepat dan tidak ada lagi penutupan jalur yang membuat kami blusukan ke kalan tikus.

Demikian.

Garut, 23 Mei 2022

*rikigana

Sabtu, 14 Mei 2022

Satgas Ribet

Hidup dimasyarakat, di lingkungan yang serba nanggung itu, seru-seru ribet.

Lingkungan saya perumahan subsidi. Orang-orangnya serba nanggung, dan banyaknya masih butuh pengakuan (baik secara harta maupun penghargaan). Lingkungannya itu tidak homogen, lebih banyak kompleksitasnya (secara ekonomi maupun pendidikan kemasyarakatan).

Tidak heran, jika segala sesuatunya: Ribet!

Lama paham, dan bahkan yang paham pun ego ingin keliatan keberadaannya.

Yang masih tanda tanya dalam pikiran: Apakah ini terjadi di seluruh perumahan bersubsidi dan kampung? Atau memang dikomplek itu demikian.

Tapi, sepengalaman saya hidup dikampung, fenomenanya hampir sama. Sepengalaman saya tinggal di komplek elit, fenomenanya beda -- lebih banyak cueknya dan masing-masing asal kebutuhan dasar lingkungannya terpenuhi (misal sampah ya tinggal bayar, garibet).

Saya sudah akan 3 tahun pegang pengeloalaan artesis, dan alhamdulilah sudah mulai tertata secara teknis dan manajerial -- sudah cenderung kondusif, tidak rame lagi debat kusir yg tidak berdasar. Alhamdulilah, yang awalnya begitu acak-acakan, penuh penolakan, gontok-gontokan (karena ada uangnya), sekarang sudah terlihat baik sesuai dengan relnya. 

Kata kunci penyelesaian adalah dengan sistem; baik sistem manajerial, teknis dan tentu saja leadership.

Nah, tenyata ketika terjun dan membereskan artesis tersebut, saya banyak menemukan, bahwa tidak hanya artesis, tetapi keorganisasisan masyarakat yang lain pun demikian (rt,rw,dkm) -- ada kubu2an, ego-egoan, kepentingan yang sebetulnya sangat kecil dan mendasar untuk diri dan kelompok. Karena tadi tidak ada sistem yang dibangun secara utuh.

Ini berakibat buruk, karena hal yang paling dasar sekalipun, tidak terurus dan ada pembiaran (banyaknya ribut diteknis dan gontok-gontokan). Misal dalam keamanan,ketertiban,keindahan yang semua berkaitan dengan lingkungan hidup, itu tidak jalan atau jalan secara parsial ke rt an. Sehingga, masih banyak ditemukan got mampet, pengangkutan sampah tidak pas, fasum tidak ada yang ngurus, jalan acak-acakan, dll (rw tidak punya peranan kuat dan konsep untuk membereskan hal ini--krisis leadership). Selanjutnya, tentang penanganan kematian dan kuburan, masih belum tersentralisir di ke rwan, sehingga keluarga duka masih menanggung biaya yang sangat besar (padahal ini bisa ditanggung renteng oleh seluruh warga se rw dengan pengelolaan yang baik), belum lagi mengenai posisi penguburan yang asal, sehingga posisi makam acak-acakan, seenake udel untuk posisi.

Berangkat dari hal tersebut, saya buatkan konsep satuan tugas dilingkungan. Satgas merupakan adhoc, adhoc adalah organisasi khusus yang dibentuk untuk bergerak cepat menyelesaikan permasalah sampai suatu saat berjalan dengan baik.

Ada dua satgas yang saya bentuk (dan diusulkan di ke rwan): satgas K3 (yang merupakan pergantian dari satgas covid), dan satgas penanganan duka cita.

Alhamdulilah, masih ada tim yang mau dukung dan menyetujui usulan saya (rt.4 dan ketua rw.16). Untuk satgas K3 karena sudah lebih dulu terbentuk, cenderung berjalan lancar.

penolakan atau keribetan, justru di satgas duka cita, dan datangnya dari beberapa ustadz, dan itu sifatnya tidak prinsip; misal masalah nama, dll yang sangat parsial. Bukan sisi prinsip fiqh misalnya. Jadi, justru ini memperlihatkan adanya ego dan ingin diakunya segelintir orang (ustadz) tersebut. Jadi, seolah berprinsip, kalo bukan ide dari dia itu salah. Yang jadi masalah, sudah terbukti mereka tidak bisa menjalankannya -- buktinya ide dari mereka pengurusan yang katanya harus di dkm, sampai saat ini tidak terealisasi dengan baik. Malah cenderung acak dan abai.

Ini problem!

Dan problemnya ada di orang-orang yang menurut saya oknum yang kadang berlindung di lembaga dan sebutan yang sholeh (dkm dan ustadz). Seolah titahnya merupakan jaminan akherat. Ini membuat jelek citra lembaga dan nama.

Lantas apa yang harus saya lakukan?

Tetap go a head. Jalan. Mungkin akan cape lagi karena harus terjun langsung. Tapi setidaknya tidak sendrian, beda dengan artesis dulu, sekarang sudah ada tim yang dulu juga kurang lebih begini, menolak tapi setelah jalan kemudian mereka baru sadar dan mengamini.

Tantangannya karena dikaitkan dengan agama, ini yang akan lama secara struktural, karena mereka merasa lebih soleh dibandingkan saya-- yang kadang2 ke mesjidnya. 😄

Demikian,


Serang, 14 Mei 2022

*Riki gana