Kamis, 25 Juli 2019

Passion


Saya tidak lahir dari kelurga berkecukupan. Sehingga harus berjuang terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan dasar, minimal sandang pangan papan. Ketika bicara passion. Kadang tak kepikiran, dulu. Setelah kebutuhan dasar tercukupi, di umur sekarang yang menginjak 33 tahun (23 juli kemarin), dank arena kejenuhan aktifitas yang ada. Jadi kepikiran tentang passion. 

Passion adalah perasaan yang sangat kuat seseorang pada sesuatu. Passion seringkali menjadi akar dari berbagai hal sebelum seseorang melakukan sesuatu. begitu kuatnya hingga terkadang orang bersedia melakukan apapun meski dengan pengorbanan yang cukup besar.
 
Begitu bahasa sederhana hasil googling tentang apa itu passion. Mungkin singkat nya bisa dikatakan sebagai gairah.

Lantas tentang ini, saya pun bingung apa yg menjadi passion saya. Hehe…
Karena terkadang saya bertipe ambisius. Yang kemudian setelah tercapai menajdi bosan. Menggebu dan tekun akan sesuatu yang memantang tapi kemudian menjadi bosen dan lelah saat menajdi rutinitas. Dan lainnya, saya kadang tak terpikirkan bagaimana cara menghasilkan uang, selain dari bekerja rutin. Jadi kemudian sekedar menekuni apa yang di tugaskan, tetapi menantang, dan setelah tercapai kemudian tercipta kebosanan.

Passsion tak juga identik dengan hobi, tidak sama. Saya memang hobi menulis, membaca, sejarah dan seni / sastra keindahan tapi bingung saat harus mendapatkan uang dari hobi tadi. Saat saya googling lebih jauh memang tak serta merta hobi menjadi passion, dan memang, jika dikatakan usaha yang menyenangkan adalah dari hobi. Betul memang. Tapi nyatanya tak semudah itu, tanpa ada daya juang dan motivasi tinggi untuk mencapainya.

Saya memutuskan berhenti jadi karyawan 2 kali. Saat yang pertama di picu karena kondisi yang sudah tidak kondusif dan membosankan, yang kedua lebih kepada tak ada tantangan dan monoton. Setelah itu saya masih berencana melakukan pencarian menjadi karyawan kembali. Akibat ketidaktahanan menghadapi kebosanan di weekday. Tapi kemudian istri yang menyadarkan, di umur segini, sebaiknya reset ulang tujuan hidup. Di saat untuk kebutuhan dasar dan pendidikan dari keluarga sudah tercukupi. Apakah harus kembali menjadi kuli?.memang betul, tapi merubah mindset memang tak semudah itu. Masih selalu dihantui kekhawatiran, bagaimana cara menghasilkan uang saat tak menjadi kuli.

Dilain sisi, Kecenderungan sensi, dan selalu melihat kedalam. Ini dampak lain psikologis masa lalu saya, mungkin. Saya termasuk orang rumahan, senang kebersihan dan kerapian rumah. Dilain sisi saya begitu menyenangi kepemimpinan, ini pun dampak dari keluarga, terutama bapak yang mengajarkan kepemimpinan dan ibu mengajarkan dengan tindakan tentang keaktifan. Saya pernah mengikuti test sederhana mengenai kepribadian, tak heran jika hasilnya menunjukkan sebagai melankolis yang sempurna dan koleris yang kuat.

Dan entahlah..
Dari sekian yang telah terceritakan, saya belum tercerahkan mengenai ke –passion –an. Terutama pada bagian bagaimana menghasilkan rupiah dengan passion. Bukan karena tuntutan atau ikut-ikutan jaman yang sekarang sedang rame-rame nya ber passion ria.

--
Serang, 25 juli 2019

Sabtu, 15 Juni 2019

Keluarga Cau Muli (2)


Saya tiga bersaudara. Eh, empat sebetulnya. Karena bapak pernah menikah dan dikarunai anak perempuan : kakak saya tertua. Ibu saya (mamah saya memanggilnya) adalah istri yang ketiga kali nya. Bapak sudah menikah 2 kali sebelum dengan ibu saya. Dengan istri yang kedua, bapak tak dikaruniai putra/i. Karena pernikahannya terbilang singkat --- Begitu cerita Bapak, di suatu waktu di saung balong, sambil menunggu hujan reda.

Bapak dan ibu saya terpaut perbedaan usia 10 tahun. Baru-baru ini saya tau, Bapak lahir di 1956. Lulus SMEA ibu di pinang bapak yang seorang kepala desa, kala itu. Di janjikan akan di kuliahkan, setelah menikah : janji yang kemudian tidak pernah tertepati karena banyak karenanya.

Ini jadi semua tentang bapak. Tapi kali ini saya ingin cerita tentang saudara-saudara. Yang berempat itu.

Agak sulit mendeskripsikan kakak saya yang pertama dari ibu yang berbeda. Disamping dari kecil tidak serumah. Sangat jarang – sebelum dewasa dan menikah – berkunjung ke rumah. Yang jelas pada umumnya, anak dengan kondisi ketidak ajegan keluarga, bisa dipastikan terlunta-lunta kehidupannya. Apalagi kemudian ibunya menikah lagi. Akhirnya kesini tiri, kesitu tiri. Jika dia ceritakan, lebih sangat menarik dari cerita kesusahan saya. Dia hanya lulusan SD (kala itu, kata bapak mau disekolahkan, di tolak sama neneknya), kemudian masuk pesantren, tak lama menikah di usia muda. Lainnya bisa ketebak. Cekcok dan cerai. Fenomena ini masih banyak terjadi di kampung saya. Cepet nikah. Cepet pula cerainya.  Alhamdulilahnya, sekarang dia sudah ajeg berkeluarga dipernikahannya yang kedua. Dengan rekan kerja nya, saat merasai menjadi TKI di Arab Saudi. Dikarunia seorang putri : kelas 2 SD saat ini.

Adik saya yang pertama perempuan, lahir 1994. Lulusan UIN Banten jurusan komunikasi. Sekarang sudah bekerja dan berkeluarga. Dikaruniai seorang putra, baru 4 tahun usianya. Saya merasa dia dewasa sebelum waktunya. Dipaksa untuk memahami kondisi likuiditas keluarga. Dan berpikir bagaimana caranya menyelesaikan studinya, tanpa membebankan orang tua. Dia memutuskan menikah sebelum wisuda. Tapi kemudian cum laude saat wisuda dan sukses. Pada momen ini saya sangat menyesal, tak bisa menghadiri acaranya. Agak aneh memang. Tak ada alasan. Selain karena keruwetan lingkungan pekerjaan -- yang alhamdulilah saat ini sudah saya akhiri, dan mencoba berganti.
Kadang saya tak percaya dia bisa begitu. Mungkin mencontoh. Mungkin pula terjepit kondisi. Dulu, dulu sekali, saat masih kecil, saat masih saya gendong keliling kampung untuk main, nakal nya bukan main. kalo tidak di turuti keinginnya, bisa nangis jerit guling-guling. Yang masih melekat di ingatan, suatu saat, tak bisa dilarang, nginjek lantai keramik milik tetangga, kemudian di usir dengan congkaknya, Kenangan yang agak menyakitkan emang. Saat itu, lantai rumah kami separo tanah dan separo acian tembok.  Dan rumah pun retak-retak akibat gempa yang sering.
Intensitas saya dengan adik yang ini, lumayan tinggi. Setidaknya rentang waktu bayi sampai dia lulus SD. Sebelum kemudian saya kuliah, tak di rumah. dia di kirim ke pesantren modern. Di rangkas bitung. Sampai SMA. Dan kuliah. Di serang : memilih untuk kost, tak ingin merepotkan katanya.
Adik saya yang kedua – bungsu, laki-laki. Saat ini mau masuk SMA. Dia lahir di 2004, saat saya lulus SMA, mau melanjutkan kuliah. Ketemunya menjadi spot – spot. Tak terasa rasanya, bayinya berasa baru kemarin. Sekarang sudah lulus SMP. Bagi si bungsu mungkin tak begitu terasa prihatin nya kehidupan keluarga, setidaknya setelah dia mengerti kehidupan. Walaupun kita, khususnya saya, selalu menerapkan pola prihatin untuk kehidupannya. Yang kemudian saya sadar, bahwa kondisi saat ini berbeda. Tak bisa dipaksakan. Tapi jadi ada efek lain, prestasi di sekolah tak semoncer kakak-kakanya. Bisa dipahami. Pertama karena kurang daya juang. Kedua takkada lagi supervisi dari yang lain. Karena otomatis dia selalu sendirian di rumah. Tapi saya tak ambil pusing. Biarkan dia begitu adanya, menikmati kondisi. Sampai suatu saat mulai dewasa dan tersadarkan. Toh basicnya tetep baik, tak pernah bergaul macam-macam. Saya pun tak ingin mengarahkan begitu dalam. Tapi berharap suatu saat, betul-betul sukses seperti yang dia inginkan.

Adik bungsu ini yang sukses dilahirkan, di rumah yang sekarang di tempati. Tidak pindah-pindah. Seinget saya, kurang lebih 5 kali keluarga kami berganti domisili. Mulai punya rumah gedong di kampung kakek dari bapak. Kemudian pindah ke pinggir jalan utama. Lalu ikut di rumah kakek dari Ibu (pulang dari rutan). Selanjutnya tinggal di Saung kebon -- sendirian. Lalu pindah ke pinggir jalan utama, kampung besar (karena mengandung bayi adik perempuan). Dan terakhir bikin rumah di yang sekarang di tinggali.

Hal ini jadi alasan, mengapa sekarang saya, istri dan anak-anak tetap tinggal di rumah bersubsidi (yang saya beli seminggu sebelum menikah). Bukan karena subsidinya. Dan bukan karena tak sanggup di rumah cluster. Ada traumatic tersendiri, ketika pindah-pindah. Selalu semua dari nol ; lingkungan, dan tetek bengeknya. Sekarang saya memilih nambah satu rumah untuk perluasan, lainnya untuk kantor istri (Notaris dan PPAT) dari pada harus pergi dan berganti-ganti domisili. Entah sampai kapan.
….
cerita flash back ini jadi begitu mengharukan : bagi saya yang sudah lama selalu mengedepankan logika daripada intuisi.
…..
Kenapa Cau muli?

Karena satu-satu penceharian yang nampak adalah kebun pisang muli di belakang rumah. Begitu terkenang, saat anak-anak sekolah,bekelnya nya pun selalu pisang muli. Dikardusin. Di ikat karet ban warna item dan tenteng di mobil elf.
Walau kemudian kebun ini di oper alihkan pemilik, karena di ributkan oleh keluarga dari pihak bapak. Sebetulnya ini bukan satu-satunya yang di permasalahkan. Karena selalu, selalu dan selalu ada semacam kecemburuan. Mengenai keruwetan ini, saya agak enggan menulisnya. Unfaedah rasanya.  Seinget saya, tak pernah ada kebaikan di keluarga kami di mata sodara-sodara. Terutama bapak. Steriotipe ‘tukang menghabiskan pakaya’ sudah melekat. Walau bagaimanapun usaha yang sudah dilakukan. Tak lantas menghilangkan semua dendam dan cercaan. Sampai detik catatan di buat pun. Tak habis rasanya perseteruan yang ada. Tentang ‘pakaya’ dan semua kenorakan nya.
Nauzdubilah…

--
Serang, 15.06.2019

Rabu, 12 Juni 2019

Keluarga Cau Muli (1)


 
cau muli dari kebon belakang rumah

  
 Sudah sejak lama ingin menuliskan ini. Menuliskan tentang keluarga. Walau di cicil, mesti di tuliskan. Sebagai bentuk muhasabah atau petikan kehidupan. Minimal sebagai referensi anak cucu, barangkali tak sempat tersampaikan secara verbal dan utuh.

Baru selesai nonton film keluarga cemara – film baru yang di remark dari serial bersambung tempo dulu. Menginspirasi, terutama pada bagian-bagian kesusahan atau kemelaratan. Tepatnya bukan menginspirasi mungkin. Tapi ikut merasai. Karena kondisi inilah yang melekat pada kondisi periode tumbuh saya. Setidaknya yang melekat dalam ingatan adalah dari SD sampai dengan masa mulai bekerja setelah kuliah. Rentang waktu yang cukup panjang –hampir dalam 20 tahunan selalu dalam kesusahan, ketidakstabilan ekonomi dan ketertekanan sosial, ada bonus nya. Berpenyakitan ! (gynecomnastia di 2 payudara yang melekat semakin membesar dan tak pernah terpikir bagaimana cara menghilangkannya, karena butuh operasi dengan biaya sangatlah besar).

Inget sekarang, jadi syukur Alhamdulilah. Walau cita-cita dan ambisi masih belum tercapai. Tapi secara kebutuhan fisiologis up sudah mulai terpenuhi. Minimal makan sudah mulai bisa milih. Tidak lagi hanya nelan ludah ketika ‘kabita’ dengan menu masakan yang rada wah. Kesehatan pun sudah membaik dan ada jaminan. Sandang, pangan, dan sedikit papan sudah ada dan sudah merasai. Termasuk keluarga di kampung. Berangsur-angsur merasai apa yang dulu hanya di ingini.
Jika jujur, sebetulnya saya bukan keluarga balangsak. Bukan pula miskin struktural. Makan tidak kurang. Pakaian tak pernah compang-camping. Aset tanah ada. Kebun Punya. Jajan selalu ada. Biaya Sekolah selalu tersedia. Latar belakang turunan orang tua berada dari keduanya, plus cukup terpandang dan punya pengaruh. Hanya likuiditas yang selalu limit. Selalu riweuh dan merasa sangat miskin karena untuk memenuhi sesuatu sangatlah sulit dan perlu waktu. Tak pernah tenang dan merasa safe akan sesuatu.

Lantas?? ya kondisi miskin lebih kepada akibat kesalahan pengelolaan. Kesalahan Manajerial. Sekali lagi salah manajemen. Baik manajemen operasional. Manajemen keuangan dan tentu manajemen sumberdaya manusia nya. Kurang kompeten dan berbudaya instan. Tak pernah terpikirkan untuk mengelola dan memenuhi  kebutuhan tingkatan maslow. Lebih banyak kepada ngalir dan instan. Ya saat butuh, baru di usahakan. Itupun untuk kebutuhan yang penting dan mendesak. Bukan kebutuhan yang kadang selalu di sabodokeun.

Mungkin kita bicara lebih teknis. Saya akan jelaskan. Untuk apa? Saya tidak bermaksud menelanjangi aib keluarga sendiri. Tapi ini lebih kepada untuk pelajaran. Barangkali sebetulnya banyak kejadian di Indonesia – sebagai Negara berkembang, keluarga yang bernasib sama. Generasi pertama susah, kemudian dia berjuang untuk “MEMILIKI & MEMENUHI”, generasi kedua (karena masih di mentori oleh generasi pertama), tetap berjuang untuk mempertahankan apa yang dipunyai & dimiliki tapi pada generasi kedua sudah tidak lagi daya juang kesusahan, hanya sifat doktrinasi dari generasi pertama yang memang betul menjalaninya. Tiba pada generasi ketiga, ini yang agak sulit. Yang serba instan. Yang serba di cukupi semua kebutuhan. Dan gampang untuk pemenuhannya. Karena generasi kedua sudah tak lagi terpikir bagaimana susahnya memdapatkan apa yang di punyai dan di miliki tersebut. Sehingga melahirkan etos kerja yang kurang pada generasi ketiga.

Inilah yang terjadi, generasi ketiga mulai di manjakan. Tibalah pada saat menghabiskan apa yang di punyai dan di miliki. Terjadilah kekacauan. Ke semrawutan. Pada titik inilah aspek pengelolaan tak berjalan seperti seharusnya. Dan sayangnya, mungkin karena keterbatasan keluasan pikiran pada periode kemerdekaan ke orde baru dan tinggal di kampong. Generasi pertama dan kedua tidak berpikir untuk membekali dengan pendidikan umum. Atau skenerio yang terjadi lain. Di Paksa untuk berpendidikan umum, sang anak tak pernah serius karena biasa di manjakan. Dan yang lebih ekstrim di jaman itu malah di ajarkan untuk di aspek kejawaraan dan kegagahan bukan aspek pendidikan atau kewirausahaan sehingga bisa di tebak, gagaplah dia akan perkembangan zaman. Kacau. Bingung. Di satu sisi tertuntut untuk menjalani kehidupan, berkeluarga dan berketurunan.

Dan, habislah apa yang dipunyai dan di miliki. Timbulah konflik antar keluarga. Yang di sebabkan oleh rebutan harta benda di genrasi ketiga. Di perparah dengan generasi kedua mati muda. Saat generasi ketiga masih belum jejeg, utuh dan mulai amburadul.

Begitulah…..

Bapak adalah generasi ketiga tersebut. Ibu : bagian lain dari hal yang intinya sama.


--
Serang, 12 juni 2019
-rgs 

#part2 dari 'sabtu bersama bapak', akan dilanjutkan se-inginnya, untuk part berikutnya

Rabu, 05 Juni 2019

Syawal 1440 H

Hari ini bertepatan dengan iedul fitri 1440 H, rabu, 5 juni 2019.
Bagaimana dan dalam kondisi apapun, hari raya membuat bahagia.  Begitu senang.
Walau kondisi saat ini sedang pemulihan, pasca di rawat sakit dbd dan typus. Pentakit yang kemudian menjadi langganan saat full aktifitas atau dalam beban puncak. Baik karena pekerjaan rutin atau hal apapun yang kadang menyita fokus dan tenaga.

Berlebaran hari ini akhirnya di rumah saja. Tidak mudik - baik kemertua atau ke orang tua. Tepatnya belum. Karena biasanya sebelum lebaran, jauh - jauh hari melakukan yang namanya mudik. Agak aneh memang, tapi toh sekarang banyak media komunikasi. Walau silaturahmi langsung tetep tak bisa tergantikan. Setidaknya dengan kemajuan teknologi, minimal komunikasi tetap dilakukan. Anywhere any pun. Hehe....

Nyocol gemblong.

Yes, salah satu tradisi yang tetap dilakukan. Sudah turun temurun. Sudah jadi adat di daerah selatan banten khususnya. Hati raya identik dengan sarapan gemblong dengan di cocol ke kuah daging kerbau. Rasanya maknyos. Luar biasa..


Ah, rasanya ingin banyak yang di tulis. Sambil nunggu istri masak dan anak-anak lagi asyik maen di kamar. Cuma otak rasanya belum sinkron, antara apa yang mau di utarakan dengan apa yang akan di ketikan. Entah karena efek sakit ini, entah karena malas. Tapi betul-betul stuck. Tak bisa mengalir seperti biasa.

Mohon maaf lahir bathin, dari kami sekeluarga.
Tulisan ini cuma untuk penanda, bahwa sekarang lebaran, dan saya masih malas. Lemes.
Itu penting, bagi saya khususnya. Hahaha...

Minggu, 12 Mei 2019

U n t u k A a s a k h a





















--
Kue nya buatan bunda,

Untuk aa sakha pradipta..
-- di usia tiga..



 ....
*lahir di hari pendidikan nasional, semoga ayah n bunda bisa mendidik aa dengan kuantitas dan kualitas yang memadai, ilmu dunia, pun akhirat.
__
Serang,
02 Mei 2019

Menyoal Kebhinekaan, Menjaga Pancasila


--
Sabtu pagi, 11 Mei 2019, di hari ke-6 Romadhon 1440 H ada chat wa masuk. Tepat pada saat saya sedang presentasi terkait topik perkuliahan marketing global. Dari seorang teman wartawan. Yang baru kenal karena ada event, dan saya jadi salah satu sumbernya. Pada kapasitas saya sebagai ketua BEM pasaca Sarjana Untirta (HIMA PASCA UNTIRTA). 


Ini menyoal kebhinekaan, lebih dalamnya tentang pancasila. Mungkin karena sebentar lagi hari kesaktian pancasila, di 1 juni mendatang. Sebetulnya saya tidak ahli dalam hal beginian. Bukan pemikir untuk hal begitu juga. Lebih banyak sebagai praktisi industri dan sekarang lagi mencoba pilihan kedua, terjun ke dunia sales dan marketing – sebagai pengejawantahaan dari cita2 berwirausaha dan lainnya .. karena penasaran.


Tapi saya suka sejarah, yang mau tidak mau selalu terkait dengan nation. Saya coba kuliah di manajemen, yang juga sangat terkait dengan pola makro dan mikro dari suatu bangsa dan Negara. Dan sekarang di amanahi jadi ketua BEM di pasca –walau tak segreget di s1. Saya akan berbagi persepsi tentang hal ini.


Berikut apa yang dia tanyakan, dan saya coba jawab dari perspektif saya (dia kirimkan via wa, dan saya jawab via wa):


**

TEMA FOKUS


Menyoal  Kebhinekaan, Menjaga Pancasila (Hari Lahir Pancasila)


Indonesia selaku negara multi etnis dan agama, ternyata masih menghadapi persoalan intoleransi yang cukup tinggi. Belakangan ini semangat toleransi dan kebhinekaan dalam bingkai ideologi Pancasila terus mengalami degradasi yang cukup drastis di kalangan masyarakat bangsa Indonesia, khususnya pada kalangan kaum muda.


Sehingga, tidak heran masyarakat dan kaum muda bangsa ini cepat terpengaruh dengan masuknya ideologi-ideologi yang berasal dari luar dan yang lebih parahnya lagi ideologi-ideologi tersebut secara terang-terangan mengatakan anti terhadap Pancasila dan semangat kebhinekaan yang sudah beratusan tahun tertanam dalam kepribadian dan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Lambat laun bangsa ini akan mengalami krisis intoleransi yang sangat besar apabila tidak diatasi dengan bijak melalui berbagai program-progam penguatan nilai-nilai Pancasila, toleransi dan kebhinekaan secara masif di tengah masyarakat kita. Penyebaran paham-paham radikal kini sangat terstruktur dan sistematis di masyarakat kita baik melalui lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi, lembaga dakwah, maupun komunitas-komunitas sosial yang ada di masyarakat.



Bagaimana Pancasila mampu merajut kebhinekaan sehingga mampu menangkal pengaruh negative eksternal dan tidak mempengaruhi cara berpikir dan tindakan masyarakat kita yang sikap kritis masih sangat rendah?



PERTANYAAN:

1. Bagaimana tanggapan Anda terkait hal tersebut?

2. Masih relevankah Pancasila dengan era milenial sekarang ini?

3. Menurut Anda, bagaimana penguatan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda?

4. Bagaimana cara bijak menyikapi kebhinekaan?

5. Bagaimana harapan terhadap Indonesia ke depan?



Berikut jawaban dari persepsi saya:


1   1. Pada era kebebasan seperti sekarang ini, terutama kebebasan informasi yang tidak ada sekat-sekat dan batasan, serta masa transisi dari euphoria dari reformasi 98, hal tersebut memang di mungkinkan terjadi. Kalau melihat kebelakang, dimana pada saat Orde baru, begitu massive nya penanaman nilai pancasila dari semua jenjang yang ada dari usia dini hingga usia lanjut di berbagai lini (melalui berbagai program yang ada – P4 kalo tidak salah, se inget saya, saya masih dapat program nya ketika di SD sebelum 98).

Tentu maksud saya kita tidak harus kembali ke jaman Orba, tapi kalo di lihat sisi positifnya, hal ini baik untuk menangkal berbagai isu tentang paham radikal yang tidak sejalan dengan pancasila. Walau bagi sebagian orang mungkin berpikir ini sebagai doktrinisasi yang berlebihan. Tapi bagi saya ketika Pakem tersebut jelas, tentu tidak ada salahnya. Apalagi menghadapi generasi sekarang – generasi milenial, termasuk saya -  generasi yang cenderung melihat sesuatu dari sudut pandang kepraktisan dan keteknologian, justru di butuhkan pakem-pakem yang menuntun mereka ke jalan yang betul dalam berbangsa dan bernegara. Agar tidak mudah terbelokkan oleh paham-paham tertentu. Sekarang, contoh simple, cek medsos, yang di dominasi oleh anak-anak milenial, begitu latah dan gampangnya mereka menghujat, menjudge -seakan tidak ada kebanggaan yang melekat di generasi kita. Belum isu-isu rasis (SARA) yang sekarang sangat mudah di temui dan di amini di medsos, tanpa ada cek dan ricek. 

2. Masih sangat relevan. Menurut saya, Pancasila ketika di lahirkan oleh para pendiri bangsa, sudah mengadopsi pola sosial masyarakat (value) di Indonesia, dan malah beberapa di adopsi dari kitab suci. luar biasa ! Artinya sampai zaman apapun ini tetap relevan untuk diterapkan di Indonesia. (Saya kebetulan suka sejarah. Jadi saya baca salah satunya sejarah lahirnya pancasila ini).

3. Nah ini yang penting, bicara generasi muda, bicara era milenial, bicara industry 4.0 – ini tren2 dunia yang tidak bisa kita hindari. Untuk itu kita perlu menjawab tantangan tersebut. Artinya pola adaptasi di perlukan untuk menanamkan nilai2 pancasila ini sesuai dengan tantangan-tantangan tersebut. Singkatnya sesuaikan penanaman nilai2 pancasila ini dengan zamannya – bukan pancasilanya ya, tapi cara penanaman nilai-nilainya!. Saran kongkrit ya semisal di buat seperti lembaga tapi yang cenderung kekinian (ke-milenialan), misal adakan kegiatan2 atau lomba-lomba yang memang bisa menumbuhkan nilai-nilai pancasila, tapi yang tidak kolot dan monoton. Lebih up to date yang dekat dengan internet dan anak muda.

4. Cara bijak menyikapi keBhinekaan : Open Minded !. Kita harus banyak bergaul, banyak baca, agar banyak referensi tentang orang lain, dengan lingkungan lain. Era sekarang dengan informasi yang sangat luas, tanpa batas untuk akses, memungkinkan kita untuk tidak Taklid akan satu acuan.

Bijak juga bermedsos, selalu cek dan ricek semua yang kita dapat. Jangan malah ikut menyebarkan. Jangan jadikan medsos sebagai toiletnya internet –tempat pembuangan segala hal sumpah serapah SARA, dll.

Malah sebetulnya sekarang itu kita tidak hanya menyikapi Kebhinekaan di Negara indonesia saja. Tapi dengan bangsa dan Negara lain. MEA (masyarakat ekonomi Asean) 2015 sudah lama di terapkan. Artinya kita sekarang sudah bersinggungan langsung dengan pergaulan Asia dan dunia. Makanya dalam salah satu MK di manajemen itu ada namanya perilaku Organisasi dan pemasaran global, artinya kita harus bisa mensiasati dan memahami perbedaan yang ada dalam setiap kultur masing-masing bangsa.

So.. kalo kita masih meributkan perbedaan di Negara kita, kita akan tertinggal jauh dari peradaban.

5. Harapan Indonesia kedepan:  saya pernah baca bahwa Indonesia pada tahun berapa saya lupa –kalo tidak salah rentang 2045, akan surplus generasi muda, sehingga beberapa ahli menyebutnya sebagai Indonesia emas. Harapannya, ya hal ini bukan hanya sebagai kajian teoritis, tapi mulai di siapkan strateginya, step by step nya, agar betul-betul apa yang di canangkan itu bisa dapat kita capai.

Saya mencontohkan RRT (tiongkok) bagaimana dia fokus dan terencana dengan sempurna untuk menggapai made by china 2025. Sekarang kan dia sudah mulai ekspansi dengan proyek OBOR nya itu. Dan mereka siap sebagai raksasa dunia menyaingi Amerika. (saya bukan pro china y, hehe… itu contoh kongkritnya).



Demikian

Terima kasih.



Ir. Riki Gana Suyatna, IP

Ketua HIMA PASCA UNTIRTA 2019

**


Dan begitulah jawaban saya

Selamat menjalankan ibadah shoum Romadhon 1440 H…


-

Minggu, 12 Mei 2019

-rgs

Jumat, 19 April 2019

P e m i l u 2019

Tadinya tidak tertarik menulis yang beginian, sudah mah mainstream, di tambah hampir seluruh ruang di banyak tempat membahas ini.
Apalagi dengan adanya medsos -- apalagi adanya whatsapp, yang mau ga mau ada effort untuk menghapusnya, karena notif selalu muncul. Dibaca sumeh, ga dibaca pun penasaran. Akhirnya kayak timbul pertentangan bawah sadar, gatel tapi gatau letak mana yang gatelnya. Kesel, tapi entah apa dan dimana bagian keselnya.

Pencoblosan sudah berlalu, di 17 april kemarin. Yang di ramekan emang terkait pilpres ---yang pada kesempatan ini di serentakan dengan pileg. Pendukung akar rumput seperti kesetanan, kesurupan, terutama di medsos. Mulai dari masa kampanye, masa tenang --yang seharusnya tenang, masa pencoblosan, sampai masa perhitungan suara oleh KPU pun tetap di ributkan. Untuk apa?

Saya bisa mahfum, kalo yg ribut emang yang punya kepentingan, misal: tim kemenangan dan yg terkaitnya, parpol dan yang terkaitnya. Tapi ini: justru yg tidak paham atau hanya ikut-ikutan kebawa arus lah yang ribut, sampai-sampai 'berani mati' untuk membela pujaannya.
Mengatasnamakan akal sehat, kadang pola-pola pikiran mereka tak masuk logika. Mau saja orang-orang itu di adu domba oleh elite-elite yang tak bertanggung jawab dan berkepentingan. Untuk apa?

Kemudian keluar hasil, hasil quick count, memenangkan salah satu calon. Itu pun jadi ribut. Tak terima dengan metode ilmiah sekalipun. Merasa bahwa hal itu di curangi. Saya sebetulnya tak terlalu paham QC. Hanya karena lulusan teknik, ya statistik sih tau dikit-dikit. Logika nya, masa seluruh lembaga kredibel menipu. Itu kan teraudit.
Sekali lagi, kalo yang ribut elit dan tim pemenangan, tidak apa-apa . Ini yang jadi masalah yang tidak paham. Untuk apa?

--
Akhirnya saya hanya ingin mengeluarkan unek-unek, ekplorasi rasa lewat kata. Mungkin banyak pandangan yang berbeda, tapi bagi saya, memperuncing perbedaan hanya menghabiskan tenaga, pun biaya.

-

Serang
19.04.2019
rgs