Rabu, 04 Agustus 2021

Aplikasi Manajerial

Ternyata saya tidak bisa lepas dari masyarakat. Dan pengabdian tertinggi adalah ke masyrakat, terutama di lingkungan sendiri (komplek perumahan). Sejauh ini saya eksis diluaranm tapi sanagt minim didalam.

Ini juga --lagi-lagi-- bukti trah yang sangat kuat. Bapak mantan kepala desa dan ibu tokoh yang aktif di masyarakat (sampai kini), membuat saya mau tidak mau 'menikmati' kegiatan pengabdian di masyarakat.

Awalnya memang memusingkan, karena banyak hal yang jauh dari standar, baik etika maupun pengetahuan. Namun demikian, lama-lama mulai ada rasa 'puas tersendiri' saat saya secara pribadi bisa melakukan sesuatu dan diterima oleh masyarakat. Kebahagiaan dan kepuasan mereka (secara tidak langsung) membuta saya bahagia yang hakikatnya malah tidak bisa diukur secara nyata.

Sebetulnya saya aktif, bukan ingin dipuji. Hanya karena prihatin melihat kekacauan-kekacauan yang terjadi, dan selalu ada gesekan yang meurut saya tidak penting. Walau sampai dengan saat ini, fitrah keruwetan itu tidak betul-betul selesai, setidaknya sudah nampak kerapian setelah saya ikut serta di dalamnya.

Terutama masalah konsep dan aplikasi manajerial. Ego dan kekacauan sedikit-demi-sedikit bisa dikikis dan dibetulkan, setelah ada sentuhan manajerialnya. Akhirnya, pengalaman organisasi dan kuliah bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika diimplementasi didunia profesional dan di bayar: itu sudah biasa, tapi di masyarakat,diterima dan tanpa di bayar: itu sungguh kebahagiaan yang hakiki.

-- Saya dipilih kembali menjadi Ketua Paguyuban Artesis 34 untuk periode 2021-2022

(rikigana)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar