Senin, 21 Desember 2020

Pengaruh Lingkungan

gambaran suasana hujan di pandeglang

Saya ternyata masih sebagai orang yang sangat terpengaruh oleh lingkungan (terutama lingkungan alam).

Semisal begini, subuh ini, saat nginep di rumah mertua (sekeluarga), di pandeglang, dengan cuaca yang segar di tambah hujan, tak seperti biasanya saya tidur lebih awal dan bagun lebih pagi (subuh).

Kemudian, tanpa di paksa, ada keinginan untuk ibadah dan membaca Al-Qur'an. Rasanya nikmat dan tenang. Suatu rasa yang tidak bisa utuh untuk digambarkan oleh kata-kata.

Ini berkebalikan dengan kondisi d serang (walau di desember ini merupakan suasana terbaik; sama-sama penghujan).

Saat di Serang (maupun saat di cilegon), cuaca begitu gerah, tidur agak susah, bangun tidak dalam kondisi prima, satu2nya cara membantu kesejukan di bantu dengan AC, malangnya, saya yang orang kampung ini, tidak terbiasa dengan AC ; semakin pakai AC, malah menggigil masuk angin.

Alhasil, terkadang keinginan untuk beribadah khusuk pun terganggu dengan keadaan lingkungan tersebut. Akhirnya, kebanyakan berkutat dengan internet.

Kemudian saat di malingping, agak sulit mendeskripsikan keadaan disana, dari sisi lingkungan oke, hanya terkadang, karena saya banyak yang dipikirkan (ambisi dan cita-cita), keinginan untuk menikmati peribadatan itu terlupakan -- tapi ini tak melulu begini, terkadang saya pun sangat religius.

Memang betul, mungkin saat ini tingkatan kenikmatan beribadah saya masih di titik ini. 

Karena semestinya, tak begitu. Jika di bandingkan suasana panas di indonesia, tentu jauh berbeda dengan panas nya di padang pasir. Dinginnya di indonesia, berbeda dengan dinginnya di kutub.

Tapi, apakah orang disana tidak menikmati peribadatanya? Tentu tidak!

Karena sesungguhnya, saya mahfum, bahwa kenikmatan itu semestinya bersumber pada pola pikir diri sendiri -- bukan pada lingkungan.

Lantas, apakah lingkungan berpengaruh? Tentu saja iya. Bagi level-level seperti saya : saat ini.

*(Rikigana)

Jumat, 18 Desember 2020

Kilas Sendu

Desember masih awet dengan ademnya

Selarut ini saya masih nongkrong di taman tengah (pemisah kantor dan rumah), sambil sesekali mendengarkan bunyi kecipak ikan yang baru di kasih pelet.

Sudah agak lama tak menikmati suasana begini

Kalo tidak nonton, nongkrong di gardu atau pengajian, atau ada hal lain apa saja yang dikerjakan.

Aslinya saya memang penyuka kesendirian, keteraturan dan ketentraman.

Saya merasa senang dalam kesunyian.

Kadang merenung untuk memaknai apa yang ada dalam hidup ini.

Teringat dulu, saat dikampung, kira-kira SD, saat kelas 1-3 listrik belum ada, penerangan hanya menggunakan lampu sumbu dengan bahan bakar minyak. Mendengarkan radio dengan energi baterai ABC (warna kuning besar - besar). Paling senang saat siarannya musik selow (walau banyaknya dangdut tempo dulu), apalagi pas jadwal siaran wayang golek. 

Adem rasanya

Biasanya saya corat-coret, di buku, entah menulis, entah juga hanya sekedar curat-coret berimajinasi.

Pada zaman itu, bapak biasanya bikin "parungan" -- bakaran dari kayu, sekedar untuk mengusir nyamuk, juga sebagai penanda penghangat (mirip diluar negeri dengan dimensi kemodernan yang berbeda).

Biasanya juga bapak sambil mengerjakan sesuatu, entah ngoprek apa, banyaknya biasanya bikin gagang cangkul. Mengukirnya, menghaluskannya, agar nyaman untuk digunakan di kebun belakang.

Sekedar mengusir rasa lapar, biasanya menggoreng pisang, atau bakar singkong. Terus minumnya, teh dengan di campur gula merah.

Membayangkannya membuat meleleh.

Tenang, sambil mengobrol tentang kehidupan -- yang dulu sekecil itu saya tak begitu paham.

zaman memang bergerak, terus berubah, terutama kecepatan teknologi.

Seiring usia bapak, dan ada nya handphone, saya perhatikan momen itu jarang terjadi.

Saya lebih banyak menemukan, setelah bapak selesai wiridan, sambil nunggu kantuk, biasanya telp dengan teman-temannya. Mengobrol apa saja. Tentang dunia, tentang usaha, banyaknya ngaler-ngidul.

Sesekali memang masih bikin panganan, atau ngambil nyiruan (lebah madu).

Ah... Sendu sesekali memang merdu..

(rikigana)

Sabtu, 12 Desember 2020

Wafat Cepat

Di tengah ke syahduan desember, kesejukan cuacanya, bagi saya ternyata menyimpan berita kedukaan -- tercatat, di 2020 ini, ada 5 orang teman yang meninggal di usia muda; satu teman SMA, 1 temen kuliah S1, 1 senior organisasi, 1 senior di kantor yang dulu, dan hari ini 1 lagi teman kuliah S2.

Kesemuaannya mendadak. Mulanya aktifitas sedia kala. Tetiba langsung tumbang, dilarikan ke RS, dan tak lama dinyatakan wafat.

Luar biasa : dugaan kuat adalah penyakit jantung. Di usia yang rata-rata masih muda. Masih produktif. Ada yang seumuran saya, di bawah, dan di atas sedikit saja umurnya. Sekali lagi -- masih sangat muda.

Saya percaya 100% bahwa umur adalah rahasia. Tapi, tentu selalu ada sabab musabab nya. Lahirnya karena penyakit yang diderita. Banyaknya pola hidup yang tak seimbang. Sehingga tumbang.

Ada yang memang bangkit kembali. Ada yang setengah bangkit (hidup berpenyakit) dan ada pula yang langsung wafat.

Pilihannya tak enak semua.

Pada titik ini saya merenung : dulu setiap ada yang meninggal, saya merasa terhenyak dan ingat dosa2.

Sekarang, masih ada terhenyak, masih ingat dosa-dosa, tapi kadarnya tak begitu membara.

Rasanya tak perlu ada ketakutan u/ mati. Tapi, bukan berarti pula musyrik menyepelekan kematian.

Bukan pula bebal akibat dosa. Tapi mencoba berusaha sambil pelan-pelan mencari makna.

Mati muda bukan pilihan. Itu takdir dan kuasa ilahi.

Tapi, jika boleh ada opsi lain (dengan memanjatkan do'a), saya berharap berumur panjang, berumur yang bermanfaat, sambil terus ingin menemukan makna, untuk mendekat pada Nya, bukan karena ada apa-apanya.

Semoga.

Lahaula wala, quwata ila billah.

(Rikigana)

Kamis, 10 Desember 2020

Pilkada Cilegon 2020

Melihat kemenangan Heldy-Sanuji (versi QC) di pilkada Cilegon, saya ikut-ikutan merasa puas.

Bukan karena beliau (pak Heldy) sebagai alumni untirta; bukan karena saya beberapa kali ikut pelatihan kewirausahaannya; pun bukan karena bersanding dengan PK Sejahtera; bukan pula karena sdh lama berteman di fb;  atau karena  lingkungan tim pemenangannya berada pada irisan yang sama. Bukan!

Puas karena adanya "new taste." 

New taste menelorkan "new hope."

-

Saya agak kenyang di Cilegon. Lebih dari sewindu 'merasai' Cilegon -- yang lingkaran puncaknya itu-itu saja, dan disitu-situ saja. Monoton : se-monoton jalur kotanya yang hanya segaris dari Simpang ke PCI.

Politik dinasti tak selamanya buruk. Saya setuju! Ada banyak informasi menyebutkan, beberapa kompeten dan terseleksi. 

Hanya: identiknya kasus korupsi, deket-deket ke dinasti. Gaya kencing berdiri, di improvisasi dengan kencing berlari; Satu masuk bui, yang lain nya (isi sendiri).

-

"RASA ITU TAK PERNAH BOHONG."


Selasa, 08 Desember 2020

BLOG KEILMUAN

 Another Blog (visit); keilmuwan dan profesi.

https://regest.wordpress.com/

 

Tutup Desember

Tak terasa, sudah di penghujung tahun 2020.

Desember yang selalu sejuk, dingin, dengan curah hujan yang tinggi. 

Hujan yang memberikan kenyamanan; dikota serang yang panas ini. Dilain sisi, hujan pun memberikan tambahan pekerjaan: kebocoran di rumah, dan banyak menimbulkan bencana -- Banjir. 

Sebetulnya bukan gara-gara hujan, sudah rahasia umum, itu semua karena tingkah polah manusia. Seperti langganan, dan hampir akurat, 3 kabupaten (Lebak, Pandeglang, Kota Cilegon) saat puncak bulan desember dilanda kebanjiran.

Dari dulu curah hujan tetap sama -- puncaknya di desember -- yang berubahah adalah pola tingkah laku manusia. Sehingga, mulailah ada akibat banjir yang meraja lela.

Masih dalam suasana virus corona : sekolah belum sepenuhnya di buka, aktifitas masih tersendat, ekonomi masih megap-megap, bantuan jalan terseok-seok (malah info update, menteri sosial di tangkap KPK karena meng-korupsi uang untuk sumbangan Korona ini).

Ada sedikit kabar menggembirakan, sudah adanya vaksin virus korona. Secara mikro (orang daerah) mungkin menganggap ini hal biasa, toh juga, dengan adanya virus corona pun sampai saat ini aktifitas sudah biasa saja. Tapi, secara makro, tren pasar, ekonomi negara, terdapat HOPE untuk bangkit dan melawan corona.

Aktifitas pribadi: banyak berkutat di pengajaran daring (online).

Mengajar SMK yang sekarang sudah UAS. Dan di Universitas yang sebentar lagu UAS.

Tesis merayap di Bab 4 & 5. Sudah bisa ditebak, bukan karena gabisa, tapi karena malasnya. Tapi, saya harus menyelesaikannya.

Aktifitas start up, tidak banyak bergerak secara signifikan, selain dari kelengkapan administratif yang sudah di selesaikan (yang kalo PT lain sangat susah mendapatkannya).

Di masyarakat, masih mengurusi tentang artesis, pengelolaan perusahaan milik warga. Sudah cukup lumayan saldonya (5 bulan jalan menembus angka 80 jutaan). Sebelumnya, 2 tahun sejak pembangunan (dipengurus lama) tak pernah sampai di angka 50 juta2 acan. Terbukti, masalah pengelolaan adalah yang utama. Dan terbukti, ada "sesuatu" yang tidak beres dalam kepengurusan sebelumnya (terutama terkait penggunaan uang).

Saya tidak merasa hebat dan jadi pahlawan, itu klise. Hanya dalam hal ini, saya menjadi bahagia, ilmu yang selama ini diperoleh, bisa di aplikasikan dan bermanfaat untuk kepentingan bersama (walau di kasih gaji, tapi tentu gaji artesis, tidak sesuai dengan proporsi pekerjaannya, saya lebih senang kerjaan ini sebagai pengabdian di masyarakat).

Keluarga: kantor istri semakin ramai, Alhamdulilah, sudah mulai mapan dan teratur. Menuju kemakmuran. Anak-anak bertiga sungguh sangat lucu-lucunya, dibalik semua keriweuhannya. Dede berjalan menuju 3 tahun, AA jalan menuju 5 tahun, dan kaka jalan menuju 8 tahun.

Rumah selalu rame dan acak-acakan, tapi disisi lain menjadi hidup dan seru -- walau ada pula marah-marahnya.

Adik yang perempuan (ayu) baru saja melahirkan anak ke dua --perempuan. Dia sudah punya dunia nya sendiri bersama keluarganya. Adik bontot laki-laki menuju kelas 2 SMA. Saya masih berharap dia sesuai apa yang saya maksudkan, masa depannya. Tapi sekali lagi tidak bisa memaksa. Hanya bisa mengarahkan dan menunjukkan. Bukan untuk memaksakan. Lainnya mendoakan.

Sekedar ingat, saya berharap dia kuliah pertanian, arsitek, atau teknik sipil. Agar kedepan -- cita-cita-- saya bisa bersama-sama buka kantor insinyur, yang sekarang sudah mulai jelas arahnya.

Memang sekarang banyak mengumpulkan uang, tapi juga harus ada tujuan akhir untuk usaha di perusahaan sendiri, tanpa paksaan dan embel2 lainnya.

Semoga 2021 merangkak dengan baik, ke arah yang lebih baik.

Aamiiin YRA.

*(rikigana)