Senin, 25 Mei 2020

Idul fitri 1441 H

Momen idul fitri tahun ini sungguh berbeda : gara-gara Corona. 

Perbedaan : sholat ied kami lakukan di rumah, dengan khotbah dengerin di mesjid (saya imam, istri makmum, anak-anak masih tidur), kami tidak mudik (tetap dirumah saja, utamanya pun tak ada uang cukup, akibat corona juga, kantor otomatis gada pemasukan 3 bulan ini), silaturahmi hanya lewat Video Call, tidak beli baju baru (kecuali anak2 yang itupun alakadarnya), dll. Sedikit menyedihkan dengan keadaan ini. Tapi, tentu tak perlu di risaukan. Sudah menjadi keharusan demikian. Babak dalam kehidupan, biarkan menjadi catatan.

Ada yang masih sama, yaitu kecapean balasin dan hapusin ucapan selamat dari orang-orang yang redaksinya selalu copas. 😁

Jumat, 22 Mei 2020

Dulu Sekarang

Saat saya di kampung -- waktu kecil s.d SMA -- tak banyak fasilitas teknologi. Hape belum ada, apalagi yang benrbentuk samrt phone kayak sekarang, tivi punya tapi selalu rusak, renyek - walau antene sudah dipasang menjulang tinggi berpuluh-puluh meter. Yang ada radio, dengan satu-satunya stasion radio yang ada, GBS Malingping (saat ini sudah gulung tikar), dan tentu pilihan terakhir adalah buku.

Jadi mungkin ini juga alasan saya menyukai buku. Apapun buku di lahap. Kenapa? karena bukupun terbatas, takada pilihan. Tidak ada perpustakaan umum di daerah malingping. Ada perpustakaan sekolah tapi itu pun tak pernah bisa untuk pinjem, entah kenapa. Selalu menjadi abrang mewah, dan selalu identik penjaganya dalah ibu-ibu yang jutek, yang harus selalu tertib sehingga rutinitas mengunjungi perpusatakaan sekolah adalah rutinitas yang serem-serem senang. Serem karena selalu dijutekin penjaganya, senang karena bisa baca buku berlama-lama.

Kebetulan saya tak sering apel malam minggu. Pertama karena rumah jauh dari pusat keramaian kota, terpencil, kedua karena tak punya kendaraan. Jadi, tak ada jalan-jalan pacaran dengan sang kekasih. Satu-satunya pacaran adalah saat-saat di sekolah (SMA), itupun berkegiatan sambil pacaran. Ikut osis, pramuka, dll bareng-bareng. Dan yang disebut pacaran adalah cuma jalan bareng berdua, ngobrol ngaler ngidul.

Lantas apa yang dilakukan malam minggu? Lagi-lagi baca buku, sambil mendengarkan radio. Kemudian berkembang menjadi tulis-menulis. Disamping tren pada saat tersebut, menulis diari adalah rutinitas kesenangan tersendiri. Apa saja ditulis, menggunakan tulisan tangan tentunya. mencurahkan semua gejolah dan keadaan diri. Ditemani radio yang kadang-kadang mendendangkan lagu iwan fals. Sesekali membaca puisi, penyiarnya, diiringi musik melankolis. Akhirnya saya ikut-ikutan menulis puisi (dalam diari), yang kemudian menjadi hobi tersendiri sampai di tempel di mading sekolah (SMA). dengan kode tersendiri -- telapak kaki.

Dari mana inspirasi puisi dan sastra tersebut? lagi-lagi buku! Karena majalah di perpustakaan SMA banyak yang berbau sastra, maka saya senang membacainya, sebut saja horison. Saya tak pernah absen untuk tidak membacanya, walaupun sebetulnya itu edisi2 terdahulu, yang tak pernah ada yang baca. kenapa ya, lagi-lagi kunjungan ke perpus itu menjadi seolah-olah sesuatu yang norak dan luar biasa (pada zaman di SMA malingping dulu). Kadang di cemooh dan di buli, karena tak sesuai dengan jati diri kebanyakan anak SMA orang malingping -- nongkrong dikantin, atau kongkow dengan genk seekstrakurikuler, anak paskibra dan anak basket terkenal waktu itu, atau gabung sama anak badung, bolos dan ngeroko diwarung depan sekolah (seolah menunjukkan sisi ke gentelmenan seorang siswa).

Nah, sekarang, disaat semua fasilitas sudah ada (buku, internet 24 jam, tv, radio, tape, smart phone) malah kadang kebingungan. Mana yang harus dilakukan? Banyaknya smartphone, hampir 90% aktifitas selalu menempel di alat ini. Apalgi saat-saat lockdown seperti ini. Lainnya, malah jadi bingung dan kayak kateuhak, buku hanya dibawa, berencana untuk dibaca. Tipi dinyalain tidak di tonton, dan radio tak pernah dinyalakan.

Jadi, ada yang hilang dari datangnya teknologi, atau kita yang tak bisa adaptasi??
Begitulah yang terjadi, sekalian saya mencoba belajar untuk membuat kalimat penutup yang menarik.
(rikigana)

Selasa, 19 Mei 2020

Kue Ramadhan (corona)


Masih dalam suasana corona, eh, Romadhon 1441 H. Ini hari ke berapa ya? yang jelas tinggal beberapa hari lagi iedul Fitri.

Romadhon dan Iedul Fitri kali ini benar-benar berbeda. Beda segala-galanya. Seluruh aktifitas yang biasa dilakukan saat romadhon, otomatis tidak kita lakukan. Ini semua gara-gara corona. Walau beberapa manusia tetap membandel. Tapi bagi saya tetep patuh untuk melakukan himbauan pemerintah.

Dampak lainnya ke ekonomi. Ini pasti. Secara makro negara tentu terjadi. Sekarang yang lebh kerasa ke pribadi. Ke keluarga sendiri. Baik keluarga di rumah, maupun untuk orangtua di kampung yang biasa kita sokong untuk segala rupanya. Untung sedikit masih ada tabungan. Untungnya juga ada ide lainnya. Istri selalu menjadi penyelamat. Dia usaha kue, kue untuk lebaran.

Kue lebaran produk NUKULA CATERING
Tiga bulan ini memang kantor sangat sepi. Orang berbondong-bondong mengirit. Kalaupun terpaksa harus belanja, maka mereka akan lebih belanja kebutuhan dasar, bukan keinginan ataupun kebutuhan sekunder. Kantor kami menyediakan layanan sekunder bahkan tersier. Pada saat kondisi corona begini, sangat-sangat terdampak. Apalagi kami sama-sama baru merintis.

Memang ada skema berjilid-jilid dari pemerintah untuk bantuan. Tapi, tau sendiri di indonesia. Yang semua tidak pernah terintegrasi dengan baik. Bantuan begitu hanya menambah kisruh karena rebutan, dan ketidaktepatan sasaran. Bahkan cenderung jadi ajang politik dan KKN. Pendataan saja masih acak-acakan dan penuh dengan subjektifitas. Saya tidak mengeluhkan pemerintah yang sekarang, karena tentu bakal sulit melancarkan segala sesuatau yang besar dan sudah akut. Ini lebih ke semua kepribadian bangsa. Cermin indonesia sampai hari ini masih begitu, di dominasi oleh golongan 'begitu'. Saya tak ambil pusing, saya juga tak mengikuti banyak orang yang hanya bisa sumpah serapah di medsos ngomongin semua kesemrawutan. Tanpa dia pun memiliki solusi. Bahkan dalam kasus tertentu, dia show up di medsos dengan mengucapkan kebencian kepada pemerintah alasannya tak lain tak bukan, karena dia bukan golongan yang kebagian. Dia terlewat. Padahal dia sangat mau. MUNAFIK ! Ada pula yang memang sengaja pansos (panjat sosial), ngata2in orang2 terkenal (atau pmerintah) agar ada konflik dan diperhatikan selanjutnya dia mendapat ketenaran untuk menjadi daya tawar. MUNAFIK ! Tapi, ya gapapa, mungkin jalan orang beda-beda.

Lah, jadi bicara fenomena politik ya.

kembali ke ekonomi keluarga. Ke peluang bisnis untuk menyambung ekonomi. Total selama romadhon ini, kami mengandalkan dari jualan kue lebaran. Alhamdulilah, istri bener2 punya ide brilian di samping keahlian hobinya. Kue laku banyak. Dan saya alhamdulilah baru tersadar, walaupun sangat kecil, pengakuan dan gaji dari sekolah yang diajar ternyata sangat baik pada saat seperti ini.

Kue nastar produk NUKULA CATERING

--
Selamat berpuasa, dan menyambut Romadhon.
(Riki Gana)

Jumat, 15 Mei 2020

Webinar Sejarah

Harry A Poeze dalam Webinar via aplikasi Zoom
Harry A. Poeze identik dengan sosok Tan Malaka. Dialah sejarawan Belanda yang paling menguasai kisah hidup aktivis politik revolusioner dalam sejarah Indonesia itu. Separuh lebih umur Harry A. Poeze digunakan untuk meneliti Tan Malaka (historia.com).

Salah satu sisi positif dari 'liburan' pandemi ini adalah banyak waktu untuk belajar daring. Jika mau, banyak webinar yang gratis, di adakan oleh lembaga2 kredibel (dalam maupun LN). Saya suka sejarah (yang belum melaksanakan penempuhan studi di bidang sejarah), selama pandemi ini - selama hampir 1 bulan - ikut berbagai jenis webinar dan meeting tentang kesejarahan, apapun.

Banyak yang menarik, apalagi jika topik pendahuluan sesuai dengan yang saya baca. Lainnya kadang hanya ikut frekuensi, malahan banyaknya menikmati tontonan presentasi : saat tokoh2/ sejarawan terkenal memaparkan materinya.

Menarik ketika memperhatikan gestur, mimik, diksi saat tokoh tsb berdiskusi ataupun saat menyampaikan pandangan-pandangannya (yang kalo dalam seminar offline sangat terbatas, terkungkung dengan formalitas dan roundown panitia). Bahkan kadang-kadang saya hanya sekedar memperhatikan ruang kerja / rumahnya. Iseng aja, hanya ingin menerawang bagaimana lingkungan sekitar mempengaruhi jalan pikiran tokoh tsb.

Nah, termasuk Pak Harry ini, walaupun saya sudah membaca (baru sedikit) karya-karya beliau, saat webinar tadi, saya malah cenderung memperhatikan bagaimana dia melapalkan bahasa indonesia, disela-sela diksi dan logat Walanda nya.
--
(rikigana)

Rabu, 13 Mei 2020

Kenyataan Corona

"Masa-masa 'liburan' pandemi ini benar-benar membuat orang banyak berpikir. Mulai yang sederhana, seperti hari ini mau ngapain, sampai yang berat, seperti bakal seperti apa dunia dan ekonomi kalau semua ini terus berlanjut".

Saya sepakat dengan tulisan diatas ; tulisannya mas Azrul. Karena mau tidak mau, sekarang kita sedang merasai nya. Paling banyak merasai kebosanan, ditambah perasaan ketidakpastian. Bagi yang menjalani kurungan : bosan karena kelamaan dalam situasi ketidakpastian. Bagi yang bandel : bosan karena ruang gerak yang terbatas. Karena dalam situasi ketidakpastian, sebandel apapun mereka, tetep menyimpan kekhawatiran akan ketularan.

Di tataran makro, stakeholder sedang tarik ulur tentang keputusan mengenai stimulus penangan pandemi (ekonomi). Seperti yang di sarikan pak DI dalam tulisannya, ada dua pendapat kuat, antara kubu DPR yang merasa harus melakukan pencetakan uang banyak, dan kubu Menkeu, tentang 'keukeuh'nya untuk berutang.

Di tataran mikro, orang-orang sangat senang meributkan bantuan. Bermacam-macam bantuan. Saking macam2 nya, gak hapal nama-namanya. Termasuk bagaimana cara 'smuting' datanya, agar penyaluran tepat dan cepat.

*
Lantas, apa yang harus kita lakukan? 
(kita = orang-orang bukan penerima bantuan, masyarakat umum kebanyakan, yang dikira tak kena dampak akibat pandemi, keluarga kecil yang menapak ke kelas menengah, keluarga besar yang banyak tanggungan pendidikan anak, dll).

Bertahanlah..
minimal sampai akhir tahun 2020. 

Bersyukur yang masih gajian dan cukup. Bagi yang tidak, saat nya tengok tabungan. Jangan gengsi untuk ngirit. Jangan sungkan merestrukturisasi cicilan. Biarlah sementara medsos sepi dari barang mewah kriditan. 

Satu lagi ; berdo'a - berserah diri. Walaupun itu hakikatnya adalah kewajiban, yang tak perlu kita gembor-gemborkan. Tapi tak haram juga untuk selalu diingatkan.

--
(rikigana)

Minggu, 10 Mei 2020

Dinamis Hidup

Saya buka catatan dulu, di blog ini.
Pada tahun 2017. Saya menulis bahwa tak seperti bapak, hidup saya cenderung monoton. Sekolah, kerja, lurus-lurus saja.

Akhirnya, saya baru tersadar sekarang, jawaban fase kehidupan monoton itu, terjadi sekarang. Saya berhenti kerja di yang sudah 8 tahun. kemudian kerja lagi hanya 3 bulan. merasakan menganggur tanpa arah. Merintis usaha yang juga belum jelas juntrungannya seperti sekarang ini yang kemudian kena pula dengan lockdown corona. mengajar sejarah di SMK Pelayaran Nusantara. Dan ketidakpastian (kedinamisan) lainnya -- baru-baru ini hasrat saya untuk sekolah S2 lagi di jurusan sejarah, setelah S2 manajemen selesai, rasanya ingin kembali di capai. Rasanya mulai pada track keinginan.

Hidup ini penuh rahasia -- bagi manusia. tapi tentu tidak bagi maha pencipta. Hanya kadang saya terlalu cepat menyimpulkannya. Lantas apa pelajarannya: sederhana, lakukan yang terbaik yang saat ini sedang di depan mata. Walau ini berat, dan bahkan membuat stres. terutama bagi saya pengagum keteraturan. Sekarang baru sadar, hidup dalam ketidakteraturan dan ketidakpastian (dinamis) lebih berat atau lebih tidak terbiasa dari hidup safety dan monoton.

Nyatanya tak seindah motivator berucap. Bahwa orang gajian itu tak bagus. usaha itu lebih baik. Hal itu bagi orang-orang yang memang sudah lama malang melintang. Bukan yang tiba-tiba berhasil. Itulah saat-saat terberat bagi kaum gajian saat beralih pada kaum yang tak pasti penghasilannya.

Ya Alloh, semoga saya selalu menjadi lebih baik
(rikigana)

ultah ke-4 a sakha

02 Mei 2016 -- 02 Mei 2020

Alhamdulilah, a sakha sudah 4 tahun. Dirayaain di rumah aja. Pas masa lockdown akibat virus corona (covid-19). kelak dicatat sejarah sebagi pandemi yang telah memakan korban jiwa jutaan, diseluruh dunia. Aa sakha, besar nanti bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi sekarang. Misal: ketahanan ekonomi kelaurga, kegiatan selama lock down, atau minimal mengetahui bahwa telah terjadi pandemi tersebut dan cara-cara untuk mencegahnya.

Selamta Ulah tahun dari Ayah, Bunda, Kaka haura, dan dede rajendara untuk aa skaha yang ke-4. Doa terbaik untuk aa sakha. Aamiin YRA..