Rabu, 02 Maret 2022

TOA SILENT

 

[Catatan Juma'ahan - (3)]
 
Saya rindu suasana jumatan di kampung (yang masih bener-bener kampung). Yang masih menerapkan pola: waktu-waktu tertentu harus pake pengeras suara, waktu-waktu tertentu tak harus pake pengeras suara.
 
Selain turun temurun (budaya). Tentu ada dalil yang diyakininya. Efektif? Itu persepsi masing-masing. Bagi saya diwaktu-waktu tertentu memang butuh ketenangan. Tapi, sekali lagi tergantung kesepakatan dilingkungan tersebut. Tidak bisa dipukul rata.
 
"Tengah poe ereng-erengan, ngadenge nu gogorohokan asa lieur kana hulu, nyah": itu ungkapan orang. Sah-sah saja. Kecuali dia kemudian anarkis ngacak-ngacak toa masjid. Itu teh, bukan berarti dia gak suka adzan, lantas kita cap: " sieta mah dazzal, katurunan iblis". Ga gitu dong! Jangan suka berubah jadi tuhan, ah!
 
Sama halnya dengan orang meyakini dakwah lewat wayang (saya pecinta wayang golek dari kecil). Efektif? Itu tergantung persfektif masing-masing. Yang jelas, bagi saya itu mengena. Selain mengenalkan budaya juga selalu ada sisipan filosofi berkehidupan dan beragama. Haram? Embuh! Saya tidak terbiasa taqlid. Kalo banyak dalil, berarti masih ada ruang alternatif, ngapain untuk diributkan. cobalah pakai helikopter view.
 
Apakah soal toa adzan dan wayang harus di bawa ke ranah hukum? Itusih orang yang cari panggung. Kalo dimedsos ramai, itu masih wajar. Karena apapun profesinya, sekarang mah gapernah jauh dari hape. Ibu jari ini kadang gatel dan gak bisa dikondisikan: apa yang terlintas, ingin segera di post. 😀
Toh, era kebebasan tidak melarang untuk menghujat dan menghakimi. Tapi, kalo sampai lapor melaporkan ya 'hambur gawe'. Polemiknya hanya bersifat normatif: SE hanya sekedar edaran, wayang hanya sekedar topik dakwah.
 
Yang saya sepakati: publik figur tak perlu bikin gaduh. Bikinlah suasana tenang, apalagi ditengah suasana pandemic dan perang (perang dengan minyak goreng dan tahu tempe 😀)
Nah, terus apa yang harus kita lakukan?
Woles-selow saja dan jangan lupa untuk bahagia.
Gausah ikut-ikutan fanpage bang tere liye; dia mah sudah mendedikasikan dirinya untuk jadi oposan. Itu mah pilihan hidup dia. Kita mah cukup jadi diri sendiri. Iya mah? 😎🤭
Lah, ngomong-ngomong, siapa yang lagi saya kasih tau? Eh, ya diri saya sendiri dong. Ngapain ngasih tau orang. Kalo semisal ada orang yang setuju, ya monggo. Gak setuju pun gapapa. Selow santai saja!
--
Yok kita jum'atan!!
FYI: Masuk gang sedikit -- dari samping kampus untirta (pakupatan), ada masjid yang masih memelihara budaya ini. Tanpa toa. Tanpa khotbah berbahasa indonesia. Tanpa berapi-api. Seperlunya. Tapi khidmat dan efektif. Pesertanya selalu penuh, pun juga banyak dari kalangan intelektual.
___
Serang, 25 Februari 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar