Minggu, 12 Mei 2019

Menyoal Kebhinekaan, Menjaga Pancasila


--
Sabtu pagi, 11 Mei 2019, di hari ke-6 Romadhon 1440 H ada chat wa masuk. Tepat pada saat saya sedang presentasi terkait topik perkuliahan marketing global. Dari seorang teman wartawan. Yang baru kenal karena ada event, dan saya jadi salah satu sumbernya. Pada kapasitas saya sebagai ketua BEM pasaca Sarjana Untirta (HIMA PASCA UNTIRTA). 


Ini menyoal kebhinekaan, lebih dalamnya tentang pancasila. Mungkin karena sebentar lagi hari kesaktian pancasila, di 1 juni mendatang. Sebetulnya saya tidak ahli dalam hal beginian. Bukan pemikir untuk hal begitu juga. Lebih banyak sebagai praktisi industri dan sekarang lagi mencoba pilihan kedua, terjun ke dunia sales dan marketing – sebagai pengejawantahaan dari cita2 berwirausaha dan lainnya .. karena penasaran.


Tapi saya suka sejarah, yang mau tidak mau selalu terkait dengan nation. Saya coba kuliah di manajemen, yang juga sangat terkait dengan pola makro dan mikro dari suatu bangsa dan Negara. Dan sekarang di amanahi jadi ketua BEM di pasca –walau tak segreget di s1. Saya akan berbagi persepsi tentang hal ini.


Berikut apa yang dia tanyakan, dan saya coba jawab dari perspektif saya (dia kirimkan via wa, dan saya jawab via wa):


**

TEMA FOKUS


Menyoal  Kebhinekaan, Menjaga Pancasila (Hari Lahir Pancasila)


Indonesia selaku negara multi etnis dan agama, ternyata masih menghadapi persoalan intoleransi yang cukup tinggi. Belakangan ini semangat toleransi dan kebhinekaan dalam bingkai ideologi Pancasila terus mengalami degradasi yang cukup drastis di kalangan masyarakat bangsa Indonesia, khususnya pada kalangan kaum muda.


Sehingga, tidak heran masyarakat dan kaum muda bangsa ini cepat terpengaruh dengan masuknya ideologi-ideologi yang berasal dari luar dan yang lebih parahnya lagi ideologi-ideologi tersebut secara terang-terangan mengatakan anti terhadap Pancasila dan semangat kebhinekaan yang sudah beratusan tahun tertanam dalam kepribadian dan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Lambat laun bangsa ini akan mengalami krisis intoleransi yang sangat besar apabila tidak diatasi dengan bijak melalui berbagai program-progam penguatan nilai-nilai Pancasila, toleransi dan kebhinekaan secara masif di tengah masyarakat kita. Penyebaran paham-paham radikal kini sangat terstruktur dan sistematis di masyarakat kita baik melalui lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi, lembaga dakwah, maupun komunitas-komunitas sosial yang ada di masyarakat.



Bagaimana Pancasila mampu merajut kebhinekaan sehingga mampu menangkal pengaruh negative eksternal dan tidak mempengaruhi cara berpikir dan tindakan masyarakat kita yang sikap kritis masih sangat rendah?



PERTANYAAN:

1. Bagaimana tanggapan Anda terkait hal tersebut?

2. Masih relevankah Pancasila dengan era milenial sekarang ini?

3. Menurut Anda, bagaimana penguatan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda?

4. Bagaimana cara bijak menyikapi kebhinekaan?

5. Bagaimana harapan terhadap Indonesia ke depan?



Berikut jawaban dari persepsi saya:


1   1. Pada era kebebasan seperti sekarang ini, terutama kebebasan informasi yang tidak ada sekat-sekat dan batasan, serta masa transisi dari euphoria dari reformasi 98, hal tersebut memang di mungkinkan terjadi. Kalau melihat kebelakang, dimana pada saat Orde baru, begitu massive nya penanaman nilai pancasila dari semua jenjang yang ada dari usia dini hingga usia lanjut di berbagai lini (melalui berbagai program yang ada – P4 kalo tidak salah, se inget saya, saya masih dapat program nya ketika di SD sebelum 98).

Tentu maksud saya kita tidak harus kembali ke jaman Orba, tapi kalo di lihat sisi positifnya, hal ini baik untuk menangkal berbagai isu tentang paham radikal yang tidak sejalan dengan pancasila. Walau bagi sebagian orang mungkin berpikir ini sebagai doktrinisasi yang berlebihan. Tapi bagi saya ketika Pakem tersebut jelas, tentu tidak ada salahnya. Apalagi menghadapi generasi sekarang – generasi milenial, termasuk saya -  generasi yang cenderung melihat sesuatu dari sudut pandang kepraktisan dan keteknologian, justru di butuhkan pakem-pakem yang menuntun mereka ke jalan yang betul dalam berbangsa dan bernegara. Agar tidak mudah terbelokkan oleh paham-paham tertentu. Sekarang, contoh simple, cek medsos, yang di dominasi oleh anak-anak milenial, begitu latah dan gampangnya mereka menghujat, menjudge -seakan tidak ada kebanggaan yang melekat di generasi kita. Belum isu-isu rasis (SARA) yang sekarang sangat mudah di temui dan di amini di medsos, tanpa ada cek dan ricek. 

2. Masih sangat relevan. Menurut saya, Pancasila ketika di lahirkan oleh para pendiri bangsa, sudah mengadopsi pola sosial masyarakat (value) di Indonesia, dan malah beberapa di adopsi dari kitab suci. luar biasa ! Artinya sampai zaman apapun ini tetap relevan untuk diterapkan di Indonesia. (Saya kebetulan suka sejarah. Jadi saya baca salah satunya sejarah lahirnya pancasila ini).

3. Nah ini yang penting, bicara generasi muda, bicara era milenial, bicara industry 4.0 – ini tren2 dunia yang tidak bisa kita hindari. Untuk itu kita perlu menjawab tantangan tersebut. Artinya pola adaptasi di perlukan untuk menanamkan nilai2 pancasila ini sesuai dengan tantangan-tantangan tersebut. Singkatnya sesuaikan penanaman nilai2 pancasila ini dengan zamannya – bukan pancasilanya ya, tapi cara penanaman nilai-nilainya!. Saran kongkrit ya semisal di buat seperti lembaga tapi yang cenderung kekinian (ke-milenialan), misal adakan kegiatan2 atau lomba-lomba yang memang bisa menumbuhkan nilai-nilai pancasila, tapi yang tidak kolot dan monoton. Lebih up to date yang dekat dengan internet dan anak muda.

4. Cara bijak menyikapi keBhinekaan : Open Minded !. Kita harus banyak bergaul, banyak baca, agar banyak referensi tentang orang lain, dengan lingkungan lain. Era sekarang dengan informasi yang sangat luas, tanpa batas untuk akses, memungkinkan kita untuk tidak Taklid akan satu acuan.

Bijak juga bermedsos, selalu cek dan ricek semua yang kita dapat. Jangan malah ikut menyebarkan. Jangan jadikan medsos sebagai toiletnya internet –tempat pembuangan segala hal sumpah serapah SARA, dll.

Malah sebetulnya sekarang itu kita tidak hanya menyikapi Kebhinekaan di Negara indonesia saja. Tapi dengan bangsa dan Negara lain. MEA (masyarakat ekonomi Asean) 2015 sudah lama di terapkan. Artinya kita sekarang sudah bersinggungan langsung dengan pergaulan Asia dan dunia. Makanya dalam salah satu MK di manajemen itu ada namanya perilaku Organisasi dan pemasaran global, artinya kita harus bisa mensiasati dan memahami perbedaan yang ada dalam setiap kultur masing-masing bangsa.

So.. kalo kita masih meributkan perbedaan di Negara kita, kita akan tertinggal jauh dari peradaban.

5. Harapan Indonesia kedepan:  saya pernah baca bahwa Indonesia pada tahun berapa saya lupa –kalo tidak salah rentang 2045, akan surplus generasi muda, sehingga beberapa ahli menyebutnya sebagai Indonesia emas. Harapannya, ya hal ini bukan hanya sebagai kajian teoritis, tapi mulai di siapkan strateginya, step by step nya, agar betul-betul apa yang di canangkan itu bisa dapat kita capai.

Saya mencontohkan RRT (tiongkok) bagaimana dia fokus dan terencana dengan sempurna untuk menggapai made by china 2025. Sekarang kan dia sudah mulai ekspansi dengan proyek OBOR nya itu. Dan mereka siap sebagai raksasa dunia menyaingi Amerika. (saya bukan pro china y, hehe… itu contoh kongkritnya).



Demikian

Terima kasih.



Ir. Riki Gana Suyatna, IP

Ketua HIMA PASCA UNTIRTA 2019

**


Dan begitulah jawaban saya

Selamat menjalankan ibadah shoum Romadhon 1440 H…


-

Minggu, 12 Mei 2019

-rgs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar