Jumat, 19 April 2019

P e m i l u 2019

Tadinya tidak tertarik menulis yang beginian, sudah mah mainstream, di tambah hampir seluruh ruang di banyak tempat membahas ini.
Apalagi dengan adanya medsos -- apalagi adanya whatsapp, yang mau ga mau ada effort untuk menghapusnya, karena notif selalu muncul. Dibaca sumeh, ga dibaca pun penasaran. Akhirnya kayak timbul pertentangan bawah sadar, gatel tapi gatau letak mana yang gatelnya. Kesel, tapi entah apa dan dimana bagian keselnya.

Pencoblosan sudah berlalu, di 17 april kemarin. Yang di ramekan emang terkait pilpres ---yang pada kesempatan ini di serentakan dengan pileg. Pendukung akar rumput seperti kesetanan, kesurupan, terutama di medsos. Mulai dari masa kampanye, masa tenang --yang seharusnya tenang, masa pencoblosan, sampai masa perhitungan suara oleh KPU pun tetap di ributkan. Untuk apa?

Saya bisa mahfum, kalo yg ribut emang yang punya kepentingan, misal: tim kemenangan dan yg terkaitnya, parpol dan yang terkaitnya. Tapi ini: justru yg tidak paham atau hanya ikut-ikutan kebawa arus lah yang ribut, sampai-sampai 'berani mati' untuk membela pujaannya.
Mengatasnamakan akal sehat, kadang pola-pola pikiran mereka tak masuk logika. Mau saja orang-orang itu di adu domba oleh elite-elite yang tak bertanggung jawab dan berkepentingan. Untuk apa?

Kemudian keluar hasil, hasil quick count, memenangkan salah satu calon. Itu pun jadi ribut. Tak terima dengan metode ilmiah sekalipun. Merasa bahwa hal itu di curangi. Saya sebetulnya tak terlalu paham QC. Hanya karena lulusan teknik, ya statistik sih tau dikit-dikit. Logika nya, masa seluruh lembaga kredibel menipu. Itu kan teraudit.
Sekali lagi, kalo yang ribut elit dan tim pemenangan, tidak apa-apa . Ini yang jadi masalah yang tidak paham. Untuk apa?

--
Akhirnya saya hanya ingin mengeluarkan unek-unek, ekplorasi rasa lewat kata. Mungkin banyak pandangan yang berbeda, tapi bagi saya, memperuncing perbedaan hanya menghabiskan tenaga, pun biaya.

-

Serang
19.04.2019
rgs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar