Jumat, 18 Desember 2020

Kilas Sendu

Desember masih awet dengan ademnya

Selarut ini saya masih nongkrong di taman tengah (pemisah kantor dan rumah), sambil sesekali mendengarkan bunyi kecipak ikan yang baru di kasih pelet.

Sudah agak lama tak menikmati suasana begini

Kalo tidak nonton, nongkrong di gardu atau pengajian, atau ada hal lain apa saja yang dikerjakan.

Aslinya saya memang penyuka kesendirian, keteraturan dan ketentraman.

Saya merasa senang dalam kesunyian.

Kadang merenung untuk memaknai apa yang ada dalam hidup ini.

Teringat dulu, saat dikampung, kira-kira SD, saat kelas 1-3 listrik belum ada, penerangan hanya menggunakan lampu sumbu dengan bahan bakar minyak. Mendengarkan radio dengan energi baterai ABC (warna kuning besar - besar). Paling senang saat siarannya musik selow (walau banyaknya dangdut tempo dulu), apalagi pas jadwal siaran wayang golek. 

Adem rasanya

Biasanya saya corat-coret, di buku, entah menulis, entah juga hanya sekedar curat-coret berimajinasi.

Pada zaman itu, bapak biasanya bikin "parungan" -- bakaran dari kayu, sekedar untuk mengusir nyamuk, juga sebagai penanda penghangat (mirip diluar negeri dengan dimensi kemodernan yang berbeda).

Biasanya juga bapak sambil mengerjakan sesuatu, entah ngoprek apa, banyaknya biasanya bikin gagang cangkul. Mengukirnya, menghaluskannya, agar nyaman untuk digunakan di kebun belakang.

Sekedar mengusir rasa lapar, biasanya menggoreng pisang, atau bakar singkong. Terus minumnya, teh dengan di campur gula merah.

Membayangkannya membuat meleleh.

Tenang, sambil mengobrol tentang kehidupan -- yang dulu sekecil itu saya tak begitu paham.

zaman memang bergerak, terus berubah, terutama kecepatan teknologi.

Seiring usia bapak, dan ada nya handphone, saya perhatikan momen itu jarang terjadi.

Saya lebih banyak menemukan, setelah bapak selesai wiridan, sambil nunggu kantuk, biasanya telp dengan teman-temannya. Mengobrol apa saja. Tentang dunia, tentang usaha, banyaknya ngaler-ngidul.

Sesekali memang masih bikin panganan, atau ngambil nyiruan (lebah madu).

Ah... Sendu sesekali memang merdu..

(rikigana)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar