Sabtu, 10 Oktober 2020

Fenomena Bisnis (Tesis)

 Dalam tataran praktis, kinerja pemasaran merupakan faktor kunci yang digunakan untuk menunjukkan keberhasilan semua bidang bisnis.Hal ini bermakna bahwa kesuksesan bisnis dapat diukur dengan unjuk kinerja pemasaran yang semakin baik dari tahun ke tahun, karena pemasaran merupakan ujung tombak dari semua bisnis termasuk pada UMKM.Unjuk kinerja pemasaran dapat ditingkatkan jika UMKM dapat memanfaatkan jaringan bisnis secara proaktif di mana bisnis mereka beroperasi. Melalui kreasi jaringan bisnis, mereka dapat berbagi wawasan dan pengetahuan tentang pelanggan, dan dapat memperoleh intelijen pasar yang lebih baik yang bermuara pada timbulnya kesadaran merek (brand) serta pengakuan pelanggan atas produk-produk UMKM yang berkualitas (Lamprinopoulou & Tregear, 2011).  

Sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan sektor industri yang dapat diandalkan sebagai indikator dalam stabilitas perekenomian baik di tingkat lokal maupun nasional. Fungsi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sendiri selain sebagai roda bisnis, juga sebagai pemberdayaan masyarakat pada umumnya. Di Provinsi Banten Sektor UMKM memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada laporan Sensus Ekonomi 2016 (sensus ekonomi paling update saat penelitian ini disusun), UMKM mendominasi jumlah persentase unit usaha di Provinsi Banten, dimana didapatkan data bahwa persentase nilai UMK sebesar 97,32 persen sedangkan UMB sebesar 2,68 persen. Dilain sisi, UMKM di Provinsi Banten merupakan penyerap tenaga kerja yang sangat besar, data SE2016 menunjukkan, UMK mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1,84 juta orang sedangkan UMB menyerap 1,47 juta orang.

Berdasarkan Tabel 1.2 terlihat bahwa Provinsi Banten mempunyai unit usaha sebanyak 946,7 ribu yang termasuk kategori UMK dan 26,1 ribu unit perusahaan kategori UMB, jumlah Unit usaha keseluruhan sebanyak 972,8 ribu. Perusahaan ini tersebar di daerah Banten Utara (Tangerang), Banten Tengah (Serang, Cilegon) dan Banten Selatan (Pandeglang, Lebak). Berikut Gambar 1.1 menunjukkan data persebaran UMKM Kabupaten / Kota di Provinsi Banten.

  

Gambar 1.1.Distribusi Usaha menurut Kabupaten/Kota di Propinsi Banten, 2017

 (Sumber: banten.bps.go.id dalam report SE2016, diakses maret 2020)

 

 Berdasarakan Gambar.1.1 dapat dilihat bahwa sebaran terbanyak terdapat di Kabupaten Tangerang yaitu sebesar 25,30 persen. Disusul kemudian oleh Kota Tangerang sebesar  16,47 persen, Kabupaten Lebak 12,16 persen, Kabupaten Pandeglang 12,11 persen, Kabupaten Serang 11,87 persen, Kota Tangerang Selatan 10,87 persen, dan Kota Serang 6,71 persen. Sementara yang paling sedikit berada di Kota Cilegon, dengan presentasi hanya sebesar 4,51 persen.

 Salah satu kategori lapangan usaha UMKM di Provinsi Banten adalah kuliner yang menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2015, di kategorikan pada kategori penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum. Berikut Tabel 1.3 menggambarkan persebaran dan Jumlah UMKM kuliner pada setiap Kab/Kota di Provinsi Banten.

Tabel. 1.3 Jumlah UMKM Kuliner Kabupaten/Kota di Propinsi Banten, 2018

No

Kabupaten/ Kota

Jumlah

(Unit)

 

1.

Kabupaten Tangerang

51.362

2.

Kota Tangerang

41.441

3.

Kota Tangerang Selatan

26.910

3.

Kabupaten Serang

17.399

4.

Kabupaten Pandeglang

13.631

5.

Kabupaten Lebak

13.908

6.

Kota Serang

11.484

7.

Kota Cilegon

8.114

Jumlah

184.249

Sumber : diolah dari Badan Pusat Statistik tiap Kab/Kota dalam Laporan Kabupaten/Kota di Provinsi Banten dalam Angka, 2018 (akses maret 2020)

 

Pada Tabel 1.3 terlihat bahwa dominasi UMKM Kuliner terdapat di daerah Banten Utara, Kabupaten Tangerang terbanyak dengan jumlah 51,4 ribu unit usaha. Jumlah terkecil berada di Kota Cilegon yaitu sebanyak 8,1 ribu unit. Menurut Dinas Koperasi &UMKM Provinsi Banten, usaha kuliner di Banten utara didominasi oleh rumah makan, cafeteria, restaurant ataupun kuliner modern lainnya. Sedangkan di Banten Tengah dan Banten Selatan masih cenderung di dominasi oleh UMKM kuliner khas lokal (Dinkopukm Banten, 2020).

Kuliner khas Lokal Provinsi Banten merupakan salah satu contoh nyata dari keragaman dan kekayaan budaya. Beberapa industri kecil dan menengah yang bergerak di bidang kuliner khas lokal Banten dan telah menjadi sorotan serta memiliki nama diantaranya adalah: Rabeg Pasar Lama, Sate Bandeng Kaujon, Emping Taktakan, Pecak Bandeng Sawah Luhur, Nasi Sumsum Cipare, Bontot Pasar Lama, Ketan Bintul Serang, Gerem Asem Serang, Pepes Belut Baros, Dendeng Kaujon, Sate bebek Cilegon, Angeun Lada Pandeglang, Emping Pandeglang, Kue Balok Menes, Kue Pasung Pandeglang, Otak-otak Labuan, Apem Putih Cimanuk, Jojorong Pandeglang, Leumeung Malingping, Baso Ikan Malingping, Opak putih Malingping, Mie Laksa Tangerang dan lain sebagainya.  Produk-produk tersebut diharapkan menjadi daya tarik dan ikon Provinsi Banten baik wisatawan lokal ataupun mancanegara.

Meskipun jumlah UMKM Banten terus meningkat dan sudah mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah, namun hasilnya masih dirasakan belum optimal dan belum mencapai target sesuai dengan yang diharapkan. Banyak UMKM Banten yang mengalami stagnasi atau tidak naik kelas baik dari usaha mikro ke kecil maupun dari kecil ke menengah (Dinkopukm Banten, 2020). 
Untuk melihat tren pertumbuhan UMKM di provinsi Banten, salah satunya melalui data dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menggambarkan kemampuan suatu wilayah untuk menciptakan nilai tambah pada suatu waktu tertentu. Berikut Tabel 1.4 menunjukkan data persen pertumbuhan usaha dan unit usaha UMKM kuliner di provinsi Banten dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2018.


Tabel. 1.4 Pertumbuhan PDRB UMKM menurut Kota/Kab Provinsi Banten

Tahun 2014 – 2018 (dalam persen)

ITEM

2014

2015

2016

2017

2018

Kabupaten Pandeglang

5,24

5,34

5,38

5,31

5,27

Kabupaten Lebak

4,80

4,90

4,97

4,92

4,90

Kabupaten Tangerang

1,53

1,45

1,49

1,50

1,51

Kabupaten Serang

2,46

2,31

2,28

2,36

2,36

Kota Tangerang

1,40

1,36

1,36

1,38

1,35

Kota Cilegon

2,13

2,19

2,28

2,27

2,24

Kota Serang

6,51

6,39

6,41

6,41

6,27

Kota Tangerang Selatan

 

3,36

3,15

3,21

3,12

3,06

Provinsi Banten

(Rata-Rata)

 

 

2,46

 

2,35

 

2,39

 

2,39

 

2,38

Sumber :diolah dari BPS Banten (www.banten.bps.go.id; diakses maret 2020)

Berdasarkan Tabel 1.4, dapat di lihat bahwa pertumbuhan dan kontribusi UMKM Kuliner terhadap PDRB Provinsi Banten di tiap Kabupaten/ Kota mengalami naik turun (fluktuasi). Secara rata-rata untuk Provinsi Banten terlihat bahwa pada tahun 2014 jumlah kontribusi sebesar 2,46 persen, tahun 2015 mengalami penurunan menjadi 2,35 persen, kemudian tahun 2016 mengalami kenaikan 2,39 persen, pada tahun 2017 stagnan di angka 2,39 persen, dan pada tahun 2018 kembali mengalami penurunan menjadi 2,38 persen. Fluktuasi dan stagnasi yang terjadi mengindikasikan bahwa pelaku usaha UMKM kuliner di Provinsi Banten terus meningkat tiap tahunnya tetapi  tidak diikuti dengan kontribusinya terhadap PDRB. Hal ini dianalisa akibat dari tidak stabilnya kinerja pemasaran dari tiap UMKM Kuliner tersebut.Apalagi kondisi pasar mengalami perubahan dimana dinamika pemasaran berdampak pada perubahan selera dan preferensi pelanggan.Perubahan ini menuntut adanya inovasi

kelangsungan hidup dan keuntungan perusahaan (kinerja pemasaran).Selain itu inovasi produk juga berpotensi meningkatkan kinerja pemasaran, semakin besar intensitas persaingan semakin kuat pula hubungan antara inovasi produk dengan kinerja pemasaran (Sarjita, 2017).

Berdasarkan fenomena bisnis yang telah dipaparkan tersebut diatas, maka penelitian ini dilakukan dengan fokus penelitian pada UMKM Kuliner Khas Lokal Banten, di daerah Banten Tengah dan Banten Selatan ( sampel yang akan diambil: Kabupaten Serang, Kota Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kota Cilegon ).

yang dapat menyempurnakan dan pengembangan suatu produk untuk mempertahankan
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar